
KONDISI iklim global yang sering berubah-ubah sehingga mengakibatkan banjir atau turunnya hujan secara ekstrim dapat meningkatkan sebaran penyakit menular seperti kriptospirodiosis.
Kajian hubungan dan dampak perubahan iklim pada penyakit tersebut yakni antara curah hujan dan banjir dengan kriptospirodiosis dipublikasikan dalam jurnal “Science of the Total Environment” oleh tim peneliti Australian National University (ANU), Jumat (24/5) lalu.
Dari studi tersebut, menurut peneliti utama ANU, Aparna Lal dalam siaran persnya, ditemukan kaitan antara tingginya curah hujan, banjir dan kasus-kasus kriptospirodiosis pada anak-anak.
“Kami juga berharap dapat menemukan kaitan lebih kuat antara infrastruktur air dan sanitasi dengan pembangunan. Hubungan ini menonjol di wilayah katulistiwa dan daerah tropis, “ ujarnya.
Kriptosporidiosis adalah penyakit parasitik yang menyerang usus mamalia, disebabkan oleh parasit Criptosporidium Parvum, ditandai dengan diare, kram, mual dan muntah dan demam.
Hasil riset, menurut dia, membuktikan bahwa banjir meningkatkan risiko infeksi pencernaan pada anak sehingga terjadinya perubahan iklim yang memicu cuaca lebih ekstrim bakal menimbulkan risiko kesehatan.
“Banjir membuat waktu pemulihan pada anak sempit sehingga lebih rentan sakit, “ tuturnya.
Pada pasien Aids, infeksi dapat menyebabkan diare permanen, sedangkan meski tidak diidentifikasi sampai tahun 1976 penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang banyak ditemui di berbagai penjuru dunia.
Riset tersebut memberikan masukan terkait manajemen penyakit di daerah yang sering dilanda cuaca ekstrim, terutama kebijakan, manajemen sumberdaya alam dan industri pengolahan air untuk mengevaluasi pendekatan terkait perubahan iklim.
Kajian sebelumnya juga menguatkan fakta bahwa adanya dampak perubahan iklim terhadap penyebarab penyakit termasuk yang ditularkan melalui yamuk.
Ahli Biologi Stanford University, Erin Mordecai dan rekan menyebutkan, perubahan iklim mengubah sebaran nyamuk hingga jauh ke utara bumi.
Indonesia termasuk wilayah yang sering terjadi perubahan iklim, sehingga tindakan mitigasi untuk mengantisipasi pergembangan penyakit harus dilakukan.
(Kompas/ns)




