
JAKARTA, (KBKNEWS) – 19/9 – KEDATANGAN kapal induk seken AL Italia ITS Giuseppe Garibaldi di Dermaga Tg Priok, Jakarta, Jumat, 18 September, menaikkan “kelas” TNI-AL menjadi “Light Blue Water Navy” dari “Green Water Navy “ yang disandang sebelumnya.
Matra laut dunia digolongkan mulai dari “Brown Water Navy” berkemampuan terbatas untuk menjaga alur sungai dan garis pantai berjarak 0 sampai 50 mil, lalu “Green Water Navy” yang menjangkau kawasan ZEE dan perairan Nusantara (200 – 500 mil).
“Light Blue Water Navy” berjangkauan operasi 1.000 sampai 3.000 mil, sedangkan (full) “Blue Water Navy” beroperasi global, dan memiliki Gugus Tempur Kapal Induk (Carrier Strike Group – CSG) dengan kapal-kapal pengawal dan pendukung serta Carrier Air Wing (CAW) atau skadron pesawat tempur/helikopter.
TNI-AL kini bertengger di kelas “Light Blue Water Navy” dengan hadirnya ITS Garibaldi berjangkauan operasi 7.000 mil, bisa dijadikan RS Terapung, markas komando dan “kandang” pesawat sayap tetap dan heli serta mampu berlayar min. 45 hari.
Untuk menjadi “Blue Water Navy” penuh, CSG harus terdiri dari satu kapal induk didampingi dua atau tiga fregat, paling tidak satu destroyer (berbobot 7.000 – 12.000 ton) atau cruiser (penjelajah, berbobot 10.000 – 16.000 ton), kapal tanker khusus (Bantu Cair Minyak – BCM), sejumlah kapal selam dan pesawat-pesawat patroli maritim (MPA).
TNI-AL kini tidak memiliki destroyer dan cruiser, hanya mengoperasikan sembilan fregat (berbobot 3.000 – 7.000 ton), tujuh kapal tanker ( BCM) , empat kapal selam diesel dan empat unit Pesawat Patroli Maritim (MPA) CN-235-220.
Untuk tanker, diperlukan yang berbobot 15.000 – 20.000 ton khusus untuk mendukung kapal induk, sementara tanker terbesar milik TNI-AL kini : KRI Arun bobotnya cuma 6.822 ton.
KRI Gajah Mada semula akan disematkan pada ITS Giuseppe Garibaldi setelah diserahterimakan kepada Indonesia, namun akhirnya dipilih nama KRI Sriwijaya.
Manfaat kapal induk
Meningkatkan “PD” di kancah diplomasi, mengirim bantuan ke negara yang ditimpa bencana, sebagai kapal bendera atau komando, berkapasitas besar, dan menjadi faktor deterrent (penggentar) terhadap pihak-pihak yang coba-coba mengganggu kedaulatan negara.
Sebaliknya, kapasitas Garibaldi menjadi “idle” atau mubazir jika digunakan untuk mengevakuasi kurang dari 500 orang, mengingat biaya operasi kapal induk tersebut satu hari sama dengan empat atau enam unit LPD/LHD. Garibaldi muat untuk mengevakuasi sampai 2.300-an orang.
Selain itu Garibaldi hanya bisa ditempatkan di satu titik, sedangkan beberapa LPD/LHD bisa disebar di lebih dari satu lokasi dan leluasa berlayar di perairan dangkal dan sempit.
Selain itu, ongkos perawatan dan operasi ITS Garibaldi setahun sekitar 5 juta Euro (Rp101 milyar), di luar biaya peremajaan dan modernisasi (refurbishment/retrofit) Rp7,2 triliun – Rp16 triliun, tak termasuk penggantian suku cadang, dan biaya operasi lanjutan.
Skim hibah gratis
ITS Garibaldi diakuisisi TNI-AL dengan skim hibah (gratis) dari pemerintah Italia, walau untuk persiapan teknis, pelatihan 100 awak di Italia, logistik awal, suku cadang dan biaya pelayaran dari pelabuhan di Italia sampai Tg Priok, Jakarta sebesar 54,02 juta Euro (sekitar Rp1,1 triliun).
Bandingkan dengan kapal LPD yang harganya dibandrol antara Rp570 milyar – Rp770 milyar (tergantung kelengkapannya) atau LHD antara Rp4,3 triliun hingga Rp35 triliun tergantung bobot dan teknologinya. Yang jelas biaya operasi dan perawatan LPD/LHD jauh lebih rendah ketimbang kapal induk.
Untuk pengoperasian misi bencana tujuh hari misalnya, jika menggunakan Garibaldi biayanya Rp21 miliyar, sebaliknya dengan LPD/LHD cuma sekitar Rp5 milyar.
Berangkat dari Pelabuhan Taronto, Italia (24/8) dan tiba di Tg. Priok, Jakarta, Jumat pagi (18/9) berjarak 5.900 – 6.100 mil laut. KRI Sriwijaya nantinya akan dikandangkan di pangkalan Teluk Ratai, Lampung.
Estimasi biaya pelayaran 26 hari:
Pelayaran Garibaldi dari Italia ke Indonesia membutuhkan konsumsi BBM sekitar Rp95,8 juta per jam, biaya operasional harian antara Rp2,5 milyar hingga R p3,5 milyar.
Rinciannya: BBM (jenis MGO) 35 ton per hari, total 26 hari 682.500 dolar AS, biaya tol Terusan Suez 400 ribu dolar AS, uang saku 600 ABK (30 dolar AS/hari), total 468 ribu dolar AS, logistik 30 dolar AS x 600 x 26 = 234 .000 dolar AS, sandar di pelabuhan Jeddah dan Colombo 100.000 dolar AS, biaya kapal tunda 50.000 dolar AS, total 1.934.500 dolar AS (sekitar Rp 34,4 milyar) belum termasuk biaya overhead utuk teknisi Italia yang ikut.
Pada kecepatan sedang (15 – 20 knot) , Garibaldi mengonsumsi 25 – 35 ton BBM jenis MGO berharga 800 – 1.000 dolar AS per ton.
Spesifikasi ITS Giuseppe Garibaldi
Dibuat oleh Fincantieri, Monafalcone Shipyard, Monafalcone (Gorizia), Italia, diluncurkan 11 juni 1983, mulai berlayar 30 Sept. 1985 dan dipensiunkan dari AL Italia pada 1 Oktober 2024.
Berbobot mati 14.150 ton, panjang 180,2 m, lebar 33,4 m, kapal digerakkan oleh empat turbin gas (Combined Gas and Gas – COGAG) buatan Fiat yang dibangun di bawah lisensi GE, menghasilkan daya 81,000 HP (60 MW).
Selain itu ada enam generator diesel Grand Motor Trieste B230/13 untuk memasok kebutuhan listrik dan navigasi.
Kapal berkecepatan maks. 30 knot (56 km/h; 35 mph), berjangkauan 7.000 mil laut (13 ribu km) pada kecepatan 20 knot (37 km/h; 23 mph). ABK 830 orang, termasuk 550 awak kapal, 180 awak penerbangan dan 100 perwira.
Sistem sensor a.l. terdiri dari berbagai radar: a.l radar jarak jauh, perigatan dini, pelacak obyek di permukaan, navigasi dan pemandu peluncuran rudal dan kanon.
Perangkat tempur
Garibaldi memiliki sistem pengecoh rudal ( Sistema di Contromisure a Lancio di Razi – SCLAR), pelontar umpan (flare atau suar), anti-torpedo serta penangkal elektronik (ECM).
Dua peluncur rangkap delapan Mk29 untuk rudal Sea Sparrow/Selenia Aspide, tiga unit kanon kembar 40 mm, dua tabung torpedo 324 mm rangkap tiga serta empat SSM (rudal antikapal) Otomat Mk2 yang dipasang di buritan .
Dek penerbangan memiliki desain “off-axis” khas dengan lompatan ski 6,5 derajat untuk pesawat V-STOL (Vertical/Short Take-off and Landing) panjangnya 174 m (571 ft) dan lebar 304 m (997 ft).
Kapasitas angkut 16 unit pesawat S-VTOL (landasan pendek/ vertikal terbang dan mendarat AV-8B Harrier II butan Inggris, helikopter Agusta /Westland AW101 atau Bell 205.
Namun sesuai kesepakatan, dan Indonesia akan memprioritaskan pemanfaatan KRI Sriwijaya untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), seluruh perangkat tempur seperti radar/sonar untuk keperluan militer dan sistem senjata (rudal, kanon, torpedo) akan dilepas.
Sebagai gantinya, TNI-AL antara lain akan menempatkan 14 helikopter (pengadaan baru atau yang sudah ada) dan 60 unit drone serang Bayrakhtar TB-3 buatan Turki.
Kombinasi Turbin Gas
KRI Sriwijaya menjadi satu-satunya kapal perang TNI-AL yang mengadopsi konfigurasi propulsi COGAC (Combined Gas Turbine and GasTurbine) dengan memadukan empat unit turbin gas GE LM2500 yang menghasilkan daya total sampai 81.000 tenaga kuda (60 MW).
Berbeda dengan sistem propulsi CODAG (Combined Diesel and Gas) atau CODAD (Combined Diesel and Diesel), sistem COGACmurni mengandalkan turbin gas di seluruh rentang kecepatan.
Hal itu membuat konsumsi BBM jenis Marine Gas Oil (MGO) atau avtur pendorong cukup tinggi meski kapal berlayar pada kecepatan ekonomis. Harga MGO pada kisaran Rp15.600/liter.
Menurut catatan AL Italia (Marina Militare), konsumsi ITS Garibaldi pada kecepatan sedang (15 not) rata-rata 6.145 liter MGO per jam atau Rp95,8 juta per jam pelayaran.
Mengonsumsi BBM 2,5 ton per jam pada kecepatan 12 knot atau 60 ton sehari, biaya BBM Rp852 juta sehari dan pada kecepatan tempur 20 knot, konsumsi BBM naik menjadi 4,8 ton per jam atau sehari 115,2 ton sehingga biaya BBM per hari pun naik menjadi Rp1,63 milyar. Angka ini didapat dengan asumsi harga solar MGO 800 dolar AS per ton degan kurs Rp17.750 per dolar AS.
TNI AL pernah mengoperasikan kapal penjelajah ringan kelas Sverdlov KRI Irian yang dibeli seken dari Uni Soviet pada 1962, berbobot 13.640 ton, hampir sama dengan Garibaldi (14.150 ton), bahkan lebih panjang (220 meter), dibanding 182 meter, kecuali lebarnya lebih pendek 22 meter dibanding 30 meter.
Akibat cekaknya anggaran perawatan dan rendahnya kompetensi ABK yang mengawakinya, bekas kapal kebanggaan armada L. Baltik Uni Soviet bernama Ordonikdze itu ditarik kembali ke Vladivostok untuk dioverhaul dua tahun setelah tiba (Maret 1964), lalu dikembalikan lagi ke Indonesia pada Agustus 1964.
Di tengah himpitan ekonomi pasca tragedi G30S, 1965, anggaran perawatan minim, ditambah lagi embargo suku cadang oleh Soviet, KRI Irian mangkrak, bahkan dijadikan ruang tahanan G30S, lalu tidak diketahui rimbanya. Dijual sebagai besi tua ke negara lain, atau ditarik kembali oleh Soviet?
Lebih Membutuhkan KPC
Mantan Kepala BAIS Laksda TNI (Purn.) Soleman Pontoh yang pernah menjadi Kepala Kamar Mesin KRI Badik dan KRI Keris mempertanyakan efektivitas ITS Garibaldi, dan berpendapat, kapal-kapal patroli cepat seperti FPB-57 buatan PT PAL lebih diperlukan untuk menjaga kedulatan NKRI.
Selain biaya operasi dan perawatan yang tinggi (sekitar Rp2 triliun setahun, tergantung lama operasi), kapal induk tidak efektif di perairan dangkal dan sempit, sementara jaringan BBM/logistik belum mendukung operasi kapal induk.
Sistem propulsi COGAG KRI Sriwijaya juga masih asing bagi ABK TNI-AL, dan berbagai perangkat elektronika yang rumit dan serba hi-tech, memerlukan waktu, ketekunan, disiplin serta program pelatihan rutin untuk menguasainya.
Tingginya biaya pengoperasian, perawatan, konsumsi BBM dan sistem pendukung kapal induk juga dikhawatrkan bakal membebani anggaran negara.
Pontoh mencemaskan, jangan-jangan KRI Sriwijaya lebih banyak diparkir ketimbang dioperasikan misalnya di sekitar Laut Natuna sebagai deterrent menghadapi potensi ancaman di Laut China Selatan, mengemban misi-misi kemanusiaan atau Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
Last but not least, dituntut disiplin dalam perawatan dan penggunaan anggaran sesuai dengan manual pengoperasiannya, jika tidak, peralatan canggih yang dipasang bisa menjadi sia-sia alias mubazir.
Jangan sampai, KRI Sriwijaya mengalami nasib setragis KRI Irian. (nanang sunarto/Indomiliter/berbagai sumber).




