
PARA penyintas paparan Covid-19 sering masih mengalami dampak lanjutan berupa gangguan kesehatan lainnya yang sering tidak disadari sehingga tidak ditangani secara serius.
Mengutip keterangan Juno Simorangkir, penyintas dan juga pendiri Covid Survivor Indonesia seperti ditulis oleh Ahmad Arif (Kompas, 7/3), dari 3.300 kelompok diskusi di FB dan 1.200 di Telegram, banyak yang mengeluhkan efek Covid-19 atau dikenal sebagai Long Covid (LC).
Banyak diantara mereka yang mengalami gangguan neurologis seperti cepat lupa, sulit berkonsentrasi atau tidur (insomnia), dan sebagian mengalami gangguan pencernaan berkepanjangan.
“Didiagnosis oleh dokter sakit maag, ternyata setelah diobati tak sembuh-sembuh, karena pengetahuan dokter tentang LC terbatas, lagi pula gejalanya mirip penyakit lain,” ujar Arif.
Arif menuturkan, dampak LC tak hanya bagi kesehatan, tetapi juga bisa menyebabkan persoalan sosial ekonomi, seperti dialami seorang mahasiswi penyintas pasca tiga bulan sembuh dari Covid-19 sulit berkonsentrasi dan cepat lupa sehingga ia depresi karena dikeluarkan dari program kerja magang.
Hal senada juga dituturkan oleh Spesialis Penyakit Dalam dr. Adaninggar yang menyebutkan LC belum jadi perhatian serius di Indonesia dan pasien terbanyak mengalami gangguan neurologis selain pernafasan.
Komplikasi Neurologis
Berdasarkan analisis komprehensif berbasis data oleh peneliti Universitas Washington, AS, ditemukan berbagai komplikasi neurologis bagi penyintas Covid berkepanjangan.
Periset tersebut menghimpun kumpulan 154.000 data terkontrol pasien terpapar Covid-19 dari 1 Maret 2020 sampai 15 Januari 2021 yang bertahan hidup 30 hari setelah terinfeksi.
Efek pasca Covid-19 a.l. berisiko tinggi mengalami gangguan neurologis pada tahun pertama setelah terinfeksi seperti masalah gangguan gerakan dan ingatan serta stroke, peradangan syaraf dan kerusakan pembuluh darah.
Yang umum terjadi a.l. masalah memori atau kabur otak, pusing, nyeri dan mukus, sedangkan dampak dengan intensitas sedang a.l. stroke, mati rasa atau baal, gangguan sistem saraf otonom, migrain, epilepsi dan kejang sera kedutan otot.
Sedangkan efek yang jarang terjadi a.l. radang otak, radang sumsum tulang belakang, pelemahan otot, Parkinson dan jatuh sisi wajah (Jawa: mengrot).
Pandemi Covid-19 sendiri saat ini sudah semakin mereda, tercatat penambahan paparan harian 144 orang (Selasa 7/3) menjadi 6.737.303 kasus, kesembuhan 218 orang menjadi 6.573.403 orang dan angka kematian bertambah dua menjadi 160.932 orang.
Konsultasi dan diagnosis lebih dalam dengan dokter terkait kemungkinan dampak LC perlu dilakukan.




