Awas! Tipu Daya di Aplikasi Kencan

Kaum perempuan diminta lebih berhati-hati dengan pria yang dikenalnya di aplikasi kencan. Sudah banyak kasus-kasus pemerasan, penipuan dan eksplolitasi seksual akibat mudah terkena tipu daya dan rayuan mereka.

KAUM perempuan hendaknya lebih berhati-hati dan waspada untuk tidak mudah terpikat bujuk rayu atau tipu daya di aplikasi kencan atau medsos, dijadikan obyek eksplotasi seksual mau pun finansial.

Harian Kompas dalam Tiras Beritanya dua hari berturut-urut (21 dan 22 April) mengungkapkan makin maraknya modus operandi penipuan berkedok cinta di dunia maya. Tercatat sejak Maret lalu, paling tidak, ada  91 perempuan korbannya.

Para pelaku memasang jeratnya untuk membangkitkan empati  melalui pendekatan agama, pribadi atau memainkan emosi korban sehingga terbangun sikap percaya bahkan tumbuh cinta.

Dalam situasi seperti itu, pelaku dengan leluasa memanfaatkan korban untuk tujuan sebenarnya, mengeruk uang sebanyak-banyaknya dari korban atau mengeksplotasinya secara seksual.

Akibatnya, harta atau uang korban dikuras, bahkan ada yang mau-maunya bersedia meminjam uang melalui daring untuk diberikan pada “kekasihnya” di dunia maya yang baru dikenalnya, dan bahkan menyerahkan kehormatannya.

Pelaku biasanya langsung menghilang tanpa jejak, bagai hilang di telan bumi, jika harta atau uang korban di ATM dikuras  habis-habisan. Sebaliknya korban, selain diaduk-aduk emosinya, karena cinta yang bersemi tiba-tiba sirna, uang dan harta ludes pula.

Penipu berjedok cinta melalui pendekatan agamis, misalnya dilakukan oleh Fariz Ahmad Faza (31) yang “sukses” memikat sembilan korban di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta menguras uang mereka sekitar Rp350-juta.

FAF mengaku sebagai putera seorang kiyai terkemuka di Jawa Timur, saat berinteraksi di dunia maya dengan korbannya, menampilkan sosok yang alim dan santun.

Setelah korban berhasil diyakinkan dan tumbuh rasa suka, FAF yang mengaku pengusaha jual-beli gawai, mulai beraksi  dan korbannya, perempuan rata-rata berusia antara 23 dan 35 tahun bagai “dicocok hidungnya” memenuhi tambahan modal yang dimintanya.

Di Purwokerto misalnya, FAF melalui perkenalan di aplikasi kencan Tinder, berhasil memperdaya dokter IT. Setelah hubungan mereka meningkat melalui chatting whatsapp, IT  mau saja mengunduh pinjaman daring RP80 juta untuk diberikannya pada FAF.

 Korban Lainnya

Sementera perempuan pengusaha perhiasan RK (43) tertipu oleh pria bernama Emirat  Moniharapon (EM) Rp180 juta. Semula ia tertarik pada EM yang tampil sebagai sosok relijius, pria idamannya.

Saat ditemui Kompas di Makassar, EM yang bertubuh atletis dan wajah bersih, mungkin sosoknya itu yang membuat RK “klepek-klepek”, menyangkal menerima barang dan uang dari RK.

Sedangkan Leonardus Wahyu Deala yang  memalsuidentitas dirinya di aplikasi kencan Tinder, Bumble dan OKCupid sebagai jebolan perguruan tinggi di Swiss, berhasil memperdaya 74 perempuan.

Pengelola aplikasi kencan seperti Tinder juga manyadari, penipuan berkedok cinta sebagai kejahatan serius dan mengingatkan peserta berhati-hati menjalin hubungan dengan orang lain.

Tips yang diberikan a.l. “jangan pernah mengirimkan uang atau membagikan informasi keuangan, informasi pribadi seperti jaminan sosial, alamat rumah atau kantor dan kegiatan rutin.

Jangan juga berikan informasi tentang keluarga, orang tua atau anak, alamat sekolah atau hal-hal lain yang bisa dimanfaatkan pelaku.

Waspada dengan orang yang tidak bersedia berbicara melalui telpon, bertemu langsung atau melalui video. Jika ada orang ingin berhubungan seerius tanpa ingin mengenal anda lebih dalam, patut dicurigai.

Sebaliknya, jika anda melakukan interaksi langsung, komunikasi verbal bisa membantu anda orang bersangkutan untuk saling menghormati batasan masing-masing.

Hubungan bisa dibatalkan kapan saja, dan khususnya jika mitra anda membujuk untuk melakukan hubungan seksual, tidak ada kewajiban anda harus melayaninya. “Anda bisa melapor ke polisi jika dintimidasi”.

Hal sama diingatkan oleh aplikasi kencan Bumble melalui laman bumble.com. “Penipu sering menekan calon korban dengan cepat. Mereka memanipulasi target sehingga  korban merasa bersalah jika tidak menuruti kemauan pelaku”.

Pola itu dilakukan M. Iqbal Pangestu (IP, 29) terhadap WT (25) di Semarang, Jateng. Dalam 24 jam Iqbal sudah menjalin kasih dengan IP dan dalam waktu yang sama minta dibukakan pinjaman daring pada WT yang sudah terbuai asmara.

Kaum perempuan termasuk remaja, jangan cepat-cepat mempercayai orang yang baru dikenal, baik di dunia maya atau nyata. Dimana-mana banyak penipuan.

Waspada dan waspada lah! Gunakan nalar dan logika, bukan perasaan dan emosi semata!

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement