Rusia Klaim Kuasai Mariupol

Rusia mengklaim tentaranya telah berhasil merebut kota Mariupol, Ukraina yang strategis, Rabu (20/4) walau dibantah oleh pihak Barat dan Ukraina.

“Mariupol sudah dibebaskan”, demikian klaim atau pesan yang disampaikan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu di TV negaranya (20/4) .

Namun sejauh ini berita masih simpang-siur, apakah kota berpenduduk 500-ribu jiwa di selatan Ukraina tersebut yang sudah dikepung dan dibombardir dari darat, laut dan udara oleh tentara Rusia sejak sebulan lalu akhirnya jatuh.

Shoigu mengimbau agar sisa-sisa tentara Ukraina yang masih bertahan di jalur-jalur dan bunker-bunker bawah tanah pabrik baja Azovstal tersebut segera menyerah.

Sudah sejak  sebulan, Rusia mengultimatum, agar sekitar 2.000 anggota batalion Azov, Ukraina yang bertahan di banteng terakhir di kota Mariupol menyerah, namun mereka tetap bergeming, terus  melakukan perlawanan.

Selain untuk menghentikan perlawanan batalion Azov, bagi Rusia, Mariupol cukup strategis, karena memutus akses Ukraina ke Laut Azov dan pihaknya bisa membangun front bersama kelompok separatis Ukraina di Donbas, Krimea yang dicaploknya pada 2014.

Dalam beberapa kali ultimatum yang disampaikannya, Rusia berjanji akan memberlakukan tentara Ukraina yang menyerah secara terhormat serta merawat dan mengobati mereka yang terluka.

Presiden Rusia, Vladimir Putin sendiri sebelumnya memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerbu kompleks industri baja tersebut, tetapi cukup mengepungnya, sehingga musuh yang bertahan kehabisan pasokan logistik, terutama makanan dan air serta amunisi.

“Jangan biarkan seekor lalat pun bisa lolos dari sana, “ seru Putin.

Sebaliknya, Jubir kemenhan Ukraina menilai, sikap Putin untuk memblokade pabrik baja tersebut tanpa menyudahi pengepungan menunjukkan bukti kecenderungan gangguan jiwa (skizofrenia” yang diidapnya.

Sementara AS yang bersama anggota NATO mendukung Ukraina, meragukan klaim Rusia tentang jatuhnya kota Mariupol dan menganggap Presiden Putin melakukan disinformasi, karena faktanya, pasukan Ukraina masih tetap bertahan.

Sedangkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebelumnya juga mengakui, pihaknya mengalami kesulitan di Mariupol, namun pasukannya tetap berjuang mempertahankannya.

Tanpa bantuan langsung dari pasukan NATO pimpinan AS, Mariupol agaknya memang sulit dipertahankan pasukan Ukraina yang sudah terkepung, kehabisan logistik dan amunisi serta kalah jauh jumlah dan pesenjataannya dibandingkan pasukan Rusia.

Namun demikian, Rusia belum bisa disebut memenangkan perang, karena tekanan internasional, dan mungkin juga campur tangan PBB nanti, bakal bisa mengubah situasi. (Reuters/AFP

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement