APA bedanya ayam negeri dan ayam kampus? Ah macam-macam saja. Mana ada kampus pelihara ayam, meski Fakultas Peternakan sekalipun. Tapi tunggu dulu, itu semua sekarang menjadi komoditas nonmigas, yang sama-sama punya penggemar sendiri. Namanya juga di jaman era gombalisasi, plus milenial yang disebut pula jaman now.
Maka bedanya adalah; ayam negeri banyak dinikmati rakyat kecil, “ayam kampus” hanya dikonsumsi orang berduit, khususnya lelaki hidung belang. Nah, sekarang peternak ayam negeri mengeluh, harganya anjlog sekali, sementara harga “ayam kampus” stabil. Maksudnya tak pernah ada yang meributkan dari segi harga, kecuali moral.
Dulu orang hanya mengenal ayam kampung. Kalau tukang ngadu ayam senengnya ayam bangkok. Tapi sejak tahun 1970-an, mulai dikenal ayam negeri atau ayam broiler seperti leghorn dan red. Di Jakarta tahun itu ada perusahaan ayam negeri namanya “Sinar Harapan” yang sering pasang iklan di radio swasta seperti P2SC dan Kamajaya.
Setelah era Orde Baru yang harga sembako makin murah, ayam negeri kemudian berkolaborasi dengan supermi-indomie, untuk membangun citarasa nusantara, namanya : mie ayam! Ketika istri di rumah sedang malas masak, tinggal beli pada pedagang mie ayam. Praktis sekali, mau pakai saus apa sambal, penjual siap memuaskan selera konsumen. Maka makan berlaukkan ayam sekarang bukan hal mewah. Orang sarapan dulu goreng telur bebek, kini pakai telur ayam negri.
Ayam negeri sekarang sudah menjadi kebutuhan rakyat pada umumnya. Ada yang diambil dagingnya (pedaging) ada pula yang diambil telurnya (petelur). Tapi sejak beberapa hari lalu para peternak ayam negeri kelabakan, karena harga jualnya jatuh. Sekilo hanya dihargai Rp 8.000,- padahal di pasar tradisional normal-normal saja, di sekitar Rp 29-30.000,-. Gara-gara jatuhnya harga ayam pedaging, banyak peternak terpaksa bagi gratis ribuan ayam negrinya ke penduduk sekitar.
Kata pihak Kemendag, harga ayam negeri jatuh di tingkat peternak karena kelebihan stok pasca Lebaran kemarin. Dikiranya permintaan meledak, peternak produksi banyak-banyak. Padahal kenyataannya kebutuhan ayam pedaging normal-normal saja. Di sinilah pemerintah tidak konsisten. Jika harga kebutuhan rakyat mahal karena kurang pasokan, biasanya langsung impor. Tapi giliran harga anjlog, kenapa Bulog tak diminta memborong produk peterenak yang melimpah tersebut?
Beda dengan “ayam kampus”, kebutuhan pasar tetap stabil saja. Meski harganya jauh berlipat-lipat dari ayam kampung atau ayam negeri, konsumennya tak berkurang. Pasarannya kini bisa sampai Rp 2 juta untuk long time dan Rp 500.000,- untuk short time. Tapi jika “ayam kampus” itu ada label artisnya, Rp 80 juta sekali kencan juga laku.
“Ayam kampus” adalah sebutan untuk mahasiswi yang “ngompreng” sebagai PSK panggilan. Untuk biaya study dia harus berjualan body. Tapi kini sudah menjadi hal umum. Di kampus, kadang ada “oknum” mahasiswinya yang menjual tubuhnya ke lelaki hidung belang untuk biaya kuliah. Apa lagi di jaman medsos sekarang ini, “ayam kampus” semakin mudah berburu konsumen. Tapi jangan cari ini di Bukalapak maupun Tokopedia, pasti nggak ada!
Paling celaka, keasyikan jadi “ayam kampus” justru jadi lupa dengan studinya. Teman seangkatan sudah wisuda, dia tetap menekuni pekerjaan “ayam kampus”-nya. Resikonya, teman-teman sudah dapat gelar, dia malah hanya gelar kasur untuk memuaskan para hidung belang. Tahukah orangtua mereka? Jelas tidak.
Padahal jika ditilik dari kacamata agama, baik produsen maupun konsumen sama-sama berdosa. Ada ayat Quran yang memperingatkan soal pentingnya menjaga kemaluan, agar tidak bikin malu keluarga. Tapi para ayam kampus itu apa pernah membacanya? Jangan-jangan tida pernah, karena yang dibaca hanyalah kantong konsumen. Inilah kelebihan ayam kampus. Ayam negeri dan ayam kampung tak tahu duit, dia justru gemar sekali sampai mengorbankan studinya. (Cantrik Metaram)





