JAKARTA – Perang yang terjadi antara Azerbaijan dan pasukan dari etnis Armenia di Nagorno-Karabakh, merembet ke negara lain. Prancis dan Turki, yang merupakan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berselisih, menyikapi pertempuran tersebut.
Dikutip dari Reuters, di hari keempat perang, pasukan Azerbaijan dan etnis Armenia masih terlibat baku tembak. Belasan orang dilaporkan kembali tewas, ratusan lainnya luka-luka. Aksi baku tembak itu terjadi hingga keluar dari perbatasan di sekitar Pegunungan Kaukasus Selatan, dan bisa saja terus meluas.
Meletusnya pertempuran di antara dua belah pihak, menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas di Kaukasus Selatan. Di mana di wilayah itu terdapat pipa yang menyalurkan minyak dan gas. Kekhawatiran akan keterlibatan Turki dan Rusia juga muncul.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Armenia, Shushan Stepanyan, men-tweet video sebuah ledakan besar dari tembakan artileri. Video itu disertai dengan suara dramatis. Dalam captionnya, bertuliskan pengambilalihan posisi Azerbaijan.
Berikutnya, Azerbaijan merilis rekaman yang menunjukkan pasukannya menembakkan sejumlah roket ke markas musuh. Asap abu-abu membumbung tinggi dari sekitar wilayah Nagorno-Karabakh saat dihancurkan oleh artileri Azeri –sebutan bagi rakyat Azerbaijan. Foto-foto yang diambil di kota Azeri Terter menunjukkan, orang-orang berlindung di bangunan rusak yang menurut penduduk terkena peluru Armenia.
Di tempat lain, sejumlah negara anggota NATO khawatir dengan sikap Turki terkait pertempuran di Nagorno-Karabakh. Hal ini merujuk pada sikap Turki yang pada Rabu (30/9) disampaikan Menteri Luar Negeri, Mevlut Cavusoglu, bahwa pihaknya akan mendukung secara militer jika Azerbaijan meminta.
Sumber:Rmol





