Badai Salju Tewaskan Belasan Pengungsi Suriah yang Berlari ke Lebanon

Ilustrasi Badai salju di Athena/ Reuters
SURIAH – Badan pengungsi PBB telah mengkonfirmasi bahwa setidaknya 13 orang Suriah, termasuk wanita dan anak-anak, telah kehilangan nyawa mereka saat badai salju ketika mencoba melarikan diri dari negara yang dilanda perang ke negara tetangga Lebanon.

Sekelompok orang Syria telah mencoba memasuki Lebanon  pada hari Kamis, namun terjebak dalam badai yang dahsyat.

“Korban mencoba menyeberangi jalur yang sulit dan kasar dalam suhu beku,” kata UNHCR dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu (20/1/2018).

Dikatakan bahwa “orang lain dalam kelompok tersebut, termasuk seorang wanita hamil, ditemukan pada waktunya dan dibantu oleh penduduk terdekat dan Angkatan Bersenjata Lebanon dan Pertahanan Sipil untuk mencapai rumah sakit sebelum mereka mati beku.”

Tentara Lebanon dan pertahanan sipil mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka telah menemukan 10 jenazah orang Suriah, termasuk dua anak dan enam wanita. Namun, jumlah korban meningkat.

Sementara itu, seorang sumber tentara Libanon mengatakan kepada AFP pada hari Sabtu bahwa jumlah korban telah mencapai 14 orang.

“Tentara mengambil total 12 mayat pada hari Jumat, dan satu orang meninggal di rumah sakit. Tubuh lain ditemukan pada hari Sabtu, sehingga jumlahnya mencapai 14,” kata sumber tersebut.

Sekitar 1,5 juta pengungsi Suriah telah tinggal di Lebanon sejak sebuah perang yang didukung oleh pihak asing dimulai di Suriah pada tahun 2011.

Banyak pengungsi tinggal di pemukiman tenda informal di timur negara itu dan berjuang untuk tetap hangat di musim dingin.

Badan anak-anak PBB, UNICEF, mengatakan pada hari Sabtu bahwa pihaknya mendistribusikan selimut, pakaian hangat dan bahan bakar pemanas.

“Lebih banyak anak-anak bisa termasuk di antara orang mati saat penduduk di daerah tersebut dan pihak berwenang Libanon terus mencari orang-orang yang dilaporkan terjebak di pegunungan dalam suhu beku dan salju,” sebuah pernyataan dari UNICEF.

Badan PBB tersebut selanjutnya meminta masyarakat internasional untuk meningkatkan bantuan bagi anak-anak yang paling terkena dampak.

Advertisement