spot_img

Badminton: Audisi Terhenti Ditangan KPAI

MIMPI sebagian bocah-bocah menjadi jago-jago bulu tangkis sehingga kesohor mulai di pelosok desa hingga seantero jagad, bakal buyar jika PB Djarum jadi menghentikan audisi pemberian beasiswa mulai 2020.

Tudingan mengeksploitasi anak-anak dengan menyaru program pencarian talenta yang dilontarkan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Yayasan Lentera Anak terasa menyakitkan bagi PB Djarum yang sudah 50 tahun berkiprah mencetak jawara-jawara bulu tangkis.

Sebut saja, maestro-maestro badminton jebolan PB Djarum a.l. Lim Swie King, Christian H, Hariyanto Arbi, Liliana Natsir dan lain yang t’lah mengharumkan nama RI di event-event laga bulu tangkis dunia.

Separuh pemain pelatnas saat ini juga berasal dari tempaan kawah candradimuka atau alumni PB Djarum, sehingga Menpora Imam Nahrawi berharap agar program audisi sebagai wahana pencarian bakat diteruskan.

“Audisi Djarum sudah melahirkan juara –juara dunia, lagipula olah raga ini butuh dukungan sponsor. Ayo lanjutkan!, “ ajaknya.
Faktanya, penghentian audisi PB Djarum memang mimpi buruk bagi anak-anak yang memiliki talenta menjadi atlit bulu tangkis, juga bagi orang tua-orang tua mereka.

Tidak jarang, mereka mengeluarkan biaya sendiri untuk memasukkan anaknya di klub-klub lokal, kemudian ikut bertanding di event-event tingkat kabupaten yang juga tidak selalu digelar.

Di PB Djarum, anak-anak usia 10 – 15 tahun ditempa dan dilatih gratis dan menikmati sejumlah fasilitas mulai dari asrama, ruang latihan, makanan bermutu, peralatan, fitness, perawatan dari ahli, akses pendidikan dan kesempatan latih-tanding dengan atlet senior.

Akibatnya, penilaian KPAI dan Yayasan Lentera terkait terjadinya ekspolitasi anak dalam program audisi yang dilakukan PB Djarum, selain menyudutkan PB Djarum untuk menghentikannya, juga menuai reaksi dari sejumlah legenda bulu tangkis dan publik.

Reaksi Susy Susanti
Kabid Pembinaan dan Prestasi PB PBSI yang salah satu legenda bulu tangkis dunia, Susy Susanti menilai, penghentian audisi menghambat pembinaan bulu tangkis usia dini, sehingga sangat merugikan.

Kevakuman pembinaan bagi anak-anak berusia sampai 15 tahun, menurut dia, bisa berakibat putus generasi kader pebulu tangkis, dan jika terjadi dalam 10 tahun saja, Indonesia bakal kesulitan mencapai papan atas lagi.
“Ini bulu tangkis, olahraga, bukan hal negatif (eksploitasi anak). Kenapa tidak didukung, apalagi bisa membuahkan prestasi bangsa, “ kata Susy.

Jawara bulu tangkis spesialis ganda putera dan campuran, Christian Hadinata juga menyayangkan dihentikannya audisi PB Djarum karena dinilai bakal mengganggu regenerasi atlit dan memutus rantai ekosistem pembinaan bulu tangkis.

Christian Hadinata yang pernah meraih berbagai gelar bergengsi dari sektor ganda putra dan campuran itu menilai berhentinya audisi PB Djarum bisa mengganggu regenerasi atlet.

Sementara Haryanto Arbi, kampiun All England 1993 dan 1994 mencuit ‘save audisi PB Djarum, mengunggah kekecewaannya atas penghentian program audisi PB Djarum dan scara tersirat menyindir sejumlah pihak yang memandang audisi sebagai bentuk eksploitasi anak.

Juara dunia bulutangkis 1983 Icuk Sugiarto yang sudah hampir 25 tahun membina anak-anak di klub Pelita Bakrie Jakarta meminta agar KPAI bijak melihat apa yang dilakukan PB Djarum membina anak-anak usia dini dari nol hingga menjadi juara dunia.

“Yang dilakukan PB Djarum adalah eksploitasi positif yang sangat membanggakan Indonesia di mata internasional. PB Djarum sudah mencetak banyak atlet berprestasi dunia termasuk peraih medali emas Olimpiade, “ ujarnya.

Icuk meminta agar KPAI tidak melihat audisi dengan kacamata kuda, karena ia melihat tidak ada kaitannya antara anak-anak yang dilatih bulutangkis dan produsen rokok Djarum, sebab mereka tidak bersentuhan langsung dengan perusahaan rokok Djarum.
Tidak Ingin Melanggar Hukum

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppi Rosimin mengemukakan, intinya Djarum tidak ingin melanggar hukum sehingga jika dilarang, akan berhenti, jika tidak, audisi ya jalan terus.

Yoppi mengaku sudah mengusulkan jalan tengah agar audisi bisa tetap berlanjut. Nama event diganti dan kata “Djarum” dihapus, selain itu, peserta audisi tidak mengenakan kaos berlogo “Djarum”, tapi kaos yang dibawa sendiri.

Namun KPAI, lanjut Yoppi, tetap ngotot untuk memberlakukan zero tolerance, maksudnya tidak ada alasan, audisi harus dihentikan, jadi ia pun memutuskan, untuk menghentikannya mulai 2020 karena tidak ingin dicap melanggar aturan.

Rencana penghentian audisi mulai 2020 bermula dari tudingan KPAI saat digelar seri pertama Audisi Umum Beasiswa Djarum Foundation (DF) Beasiswa Bulu Tangkis di Bandung, akhir Juli lalu .

Komisioner KPAI Bidang Kesehatan dan NAPZA Sitti Hikmawatty menilai, program audisi tersebut adalah salah satu bentuk eksploitasi anak terselubung. Ketua KPAI Susanto juga memanggil pihak DF namun tidak hadir pada pertemuan di Kemenko Polhukam (4/9).

Baik Susanto mau pun Sitty berkilah, pada prinsipnya KPAI tidak menginginkan penghentian audisi sepanjang tidak ada unsur eksploitasi terselubung dalam penyelenggaraannya yakni pemanfaatan anak sebagai bagian promosi.

Banyak pertanyaan, kenapa KPAI bergeming terhadap eksploitasi anak lebih kental pada unjukrasa besar-besaran dengan memolitisasi isu agama seperti digelar beberapa kali di Jakarta dua tahun terakhir ini ketimbang audisi PT Djarum bertujuan mencetak maestro-maestro bulu tangkis.

Belum lagi anak-anak balita yang diajak ngemis, disewakan atau ikut orangtua mereka seperti yang kasat mata tampak di kota-kota besar termasuk Jakarta terutama menjelang Idul Fitri yan seharusnya juga lebih diperhatikan KPAI.

Pro-kontra pun terkait audisi yang dilakukan PB Djarum bermunculan, berangkat dari sudut pandang, kadang-kadang juga subyektivitas atau kepentingan masing-masing.

Kearifan dituntut, dalam menyuarakan penegakan hukum, sehingga perlu dipertimbangkan sisi manfaat dan mudharatnya bagi kepentingan publik.

.

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles