
JAKARTA – KBNEWS – KOMUNITAS Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) mengungkapkan, 60 ribu hingga 90 ribu pasien gagal ginjal meninggal setiap tahun akibat tak mendapat tindakan cuci darah di RS.
Ketua KPCDI Tony Richard Samosir mengungkapkan “Sistem jaminan kesehatan masih timpang sehingga membuat pasien gagal ginjal tak mendapatkan perawatan, ” kata Ketua KPCDI Tony Richard Samosir pada acara Indonesia Dialysis Patient Forum (INDOPD Forum 2026 di Jakarta, akhir pekan ini.
Pemanfaatan metode Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) atau cuci darah mandiri lewat perut masih berada di bawah 0,1 persen jika dibandingkan dengan metode Hemodialisis (HD) di rumah sakit.
Kondisi ini dinilai memicu pemborosan anggaran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) serta menurunkan kualitas hidup para pasien gagal ginjal.
Lebih lanjut, Tony menyoroti adanya dugaan keengganan institusi medis dalam mengadopsi CAPD yang berakar pada motif finansial.
Rumah sakit disebutnya cenderung memilih metode HD konvensional karena memberikan perputaran klaim tarif BPJS Kesehatan yang lebih besar, mengingat pasien diwajibkan datang 8 hingga 12 kali dalam sebulan.
Hal ini berbeda dengan metode CAPD yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah oleh pasien.
Ketimpangan ini juga didukung oleh data alokasi anggaran tahun 2025, dengan metode hemodialisis nyedot dana sebesar Rp13,5 triliun sementara CAPD sekitar Rp 270 miliar.
Ada saja orang-orang yang berbuat culas memanfaatkan pasien yang memerlukan bantuan demi nyawanya terselamatkan. (detikhealth/ns)




