Bagi RI, Trump atau Biden?

Joe Biden dari Partai Demokrat (kanan), sampai Rabu (4/11) pukul 22.30 WIB, meraih 238 suara dalam pemilihan elektoral AS, sementara petahana Donald Trump dari Partai Republik 213 suara. Masing-masing minimal harus mampu meraih 270 suara dari 538 suara Dewan Eelektoral (separuh + satu suara).

CALON petahana presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump masih bertarung melawan calon Partai Demokrat, Joe Biden di menit-menit terakhir pada hari pemungutan suara elektoral, Selasa (3/11) waktu setempat.

Walau dalam jajak pendapat yang digelar Reuters dan Ipsos, 27-29 Okt.  Trump perolehan suara Trump jeblok dalam  “popular vote” nasional dengan tautan suara cukup jauh, 43 persen berbanding 51 persen, peluang untuk menjadi presiden ke-46 untuk masa jabatan 2020 -2024 masih terbuka.

Alasannya, berdasarkan konstitusi AS, pemenang pilpres ditentukan oleh dukungan minimal separuh plus 1 atau 270 dari total 538 Dewan Elektoral (Electoral College) yang ditunjuk di seluruhnya 50 negara bagian di negara itu.

Hal itu terjadi pada Pilpres 2016, dimana  Trump akhirnya berhasil menempati singgasana presiden AS ke-45, mengalahkan Hillary Clinton yang unggul lebih 1,2 juta suara pada popular vote.

Biden berpeluang unggul di wilayah dengan banyak perwakilan seperti California dan New York (84 suara perwakilan), sebaliknya, Trump berpeluang menang di belasan negara bagian dengan jumlah dewan elektoral di bawah 10.

Setiap negara bagian memiliki porsi suara elektoral berbeda berdasarkan jumlah senator yang diwakilinya, dan pemenang di masing-masing negara bagian akan mendapatkan seluruh suara elektoral (the winner takes all) di wilayahnya.

Berdasarkan hasil perolehan suara elektoral sementara sampai Rabu (4/11) pukul 22.30  WIB, Biden meraih 238 suara, sedangkan Trump hanya mampu mengantongi 213 suara.  Kedua kontestan berpacu untuk mendapatkan paling tidak 270 suara Dewan Eelektoral.

Biden unggul di Negara Bagian California, Colorado, Connecticut, Illinois, Maryland, Massachusetts, New Hampshire,  New Yersey, New Mexico, New York, Oregon, Vermont dan Washington DC.

Jika sampai kalah, Trump berarti menjadi presiden kedua setelah George W Bush yang gagal melanjutkan periode kepemimpinannya yang kedua pada 1992.

Sebaliknya, Trump menang di Nebraska, Alabama, Arkansas, Indiana, Dakota, Kentucki, Missouri, North Dakota, Okhaloma, South Caroline, South Dakota, Tennessee, Utah, West Virginia dan Wyoming.

Trump atau Biden, Sama Saja

Bagi RI, siapa pun yang terpilih, Trump atau Biden, sama-sama  menguntungkan, karena keduanya  tentu memerlukan kehadiran RI untuk menjaga keseimbangan di wilayah Asia dan Pasifik.

Terkait perang dagang dengan China dan  juga potensi ancaman militer kekuatan China yang tumbuh pesat, tentunya AS mau tidak mau memerlukan penyeimbang di kawasan Asia Pasifik. Posisi RI juga bisa dianggap merepresentasikan negara-negara anggota ASEAN.

Sebaliknya, pakar Kebijakan LN Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siswanto menolak anggapan, Trump telah mengabaikan RI dan Asia Tenggara, namun jika dianggap demikian, ia pun telah mengoreksinya menjelang akhi-akhir masa jabatannya yang pertama.

AS tentunya memerlukan RI, dan hal itu tercermin dari undangan pada Menhan Prabowo Subianto ke AS disusul lawatan Menlu Mike Pompeo ke Jakarta baru-baru ini.

Sementara Ketua Kajian ASEAN the Habibie Center A. Ibrahim Almuttaqi (Kompas, 4/10) berpendapat, RI cenderung lebih nyaman dengan kebijakan  pemerintahan Republik yang lebih terbuka pada pasar bebas dan tidak terlalu nyinyir soal isu lingkungan dan HAM.

Selain itu, jika RI dan AS mampu menjalin hubungan lebih baik, diharapkan sentimen dan dan kecurigaan,  pemerintah Jokowi “merapat” ke China seperti dihembuskan kelompok Islam garis keras bisa ditepis.

Mungkin faktor karakter Trump yang meledak-ledak memicu banyak musuh di kalangan komunitas Islam, walau para pemujanya di dalam negeri AS menganggapnya tegas dan berani dan mampu membawa ke kejayaan negerinya.

Bisa saja, kelompok tersebut juga menentang kedekatan RI dengan AS, dengan China atau dengan negara mana pun jika yang mereka pentingkan adalah menggoyang pemerintahan Jokowi menggunakan sentimen pada negara lain.

Mungkin faktor karakter Trump yang meledak-ledak, telah memicu banyak musuh termasuk dari negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim, walau pemujanya  terutama di dalam negeri AS menganggapnya tegas dan berani sehingga mampu membawa ke kejayaan negeri itu.

Di sisi lain, kepiawaian Trump mengajak Bahrain, Sudan dan Uni Emirat Arab (UEA), Mali aan menyusul  berdamai dengan menormalisasi hubungan dengan Israel mungkin dianggap salah satu legacy keberhasilannya walau bagi bangsa Palestina, hal itu adalah mimpi buruk.

Bagi RI, agaknya tidak ada masalah, Biden atau Trump OK-OK saja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement