Bahasa Jawa di Bandara

Makin banyak orang Jawa transit di bandara Abu Dhabi, dan Bahasa Jawa pun bergaung.....

BAHASA Jawa digunakan di Bandara Adisucipto, itu masih biasa, karena itu memang gudangnya orang Jawa. Tapi kini bandara Abu Dhabi atau Dubai di Emirat Arab sana, juga menggunakan Bahasa Jawa di terminal keberangkatan. Di kala semakin banyak manusia Jawa mulai melupakan bahasanya sendiri. Apakah itu sebuah tanda kebangkitan Bahasa Jawa, atau Bahasa Jawa telah go internasional?

Tahun 1965-an Bahasa Jawa masih akrab digunakan untuk pengumuman di stasiun Tugu, Yogyakarta. Ketika KA Bumel Yogyakarta – Solo Balapan atau Yogyakarta – Kutoarjo siap diberangkatkan, kala itu dari corong pengumuman terdengar kata-kata seperti ini, “Bapak bapak ibu-ibu, wekdal taksih anter, ampun kesesa minggah, mindhak dawah,” yang artinya kurang lebih menyerukan agar para penumpang tidak perlu tergesa-gesa naik, nanti jatuh, waktu masih panjang.

Sekian puluh tahun kemudian, ketika Orang Jawa semakin banyak yang pintar Bahasa Indonesia, stasiun Tugu tidak lagi menggunakan Bahasa Jawa untuk pengumuman keberangkatan dan kedatangan KA. Entah kenapa, kini Bahasa Jawa kembali digunakan di stasiun KA Yogyakarta itu. Bahkan di bandara Adisucipto pun kini pengumuman keberangkatan dan kedatangan montor muluk (pesawat terbang) juga menggunakan Bahasa Jawa, di samping Indonesia dan Inggris.

Kini memang semakin banyak orang Jawa bepergian ke luar negeri. Manusia Jawa bepergian ke Eropa, Amerika, Australia, sudah biasa, termasuk yang menjadi TKI. Padahal sebelum merdeka, orang Bantul dan Imogiri ke kota Yogyakarta menyebutnya “menyang negoro”. Bahkan tembang Jawa “Witing Klapa” menyebutkan: kula sampun njajah praja ing Ngayogya – Surakarta. Bayangkan, jaman dulu baru bisa ke Yogya-Solo saja bangganya bukan main. Kini bepergian sampai lima benua, orang Jawa diam saja.

Kemarin tiba-tiba terbetik kabar bahwa di bandara Abu Dhabi, Bahasa Jawa digunakan untuk pengumuman di terminal keberangkatan. Berkatalah sang supervisor di corong: ”Nuwun sewu, bapak-bapak soho ibu-ibu, penerbangan Emirates EK tigo-gangsal-wolu dateng Jakarta sak meniko bade kabidalaken …” Artinya: Maaf, bapak bapak dan ibu-ibu, penerbangan Emirates EK 358 tujuan Jakarta sekarang sudah mau diberangkatkan.

Bahasa Jawa juga digunakan di Bandara Abudabai, karena banyak orang Jawa yang menggunakan terminal ini untuk lintasan pergi ke Timur Tengah, khususnya ibadah haji-umrah dan TKI. Apakah itu berarti Bahasa Jawa telah go internasional? Bagi manusia Jawa yang masih mencintai budaya warisan leluhurnya, itu suatu hal yang membanggakan.

Maklum, Bahasa Jawa oleh para orang Jawa selaku penggunanya, banyak yang sudah meninggalkan. Menggunakan Bahasa Jawa merasa “ndeso”. Pemerintah daerah berusaha mati-matian melestarikan lewat Kongres Bahasa Jawa (KBJ) yang berjilid-jilid, tapi tak banyak mengubah keadaan, karena telah menjelma jadi proyek. Maka ketimbang Pemprov Jateng-Jatim-DIY setiap lima tahun sekali patungan bermiliar untuk biayai KBJ yang hasilnya nyaris nol, mendingan dana itu digunakan untuk mensubsidi majalah bahasa Jawa sebagaimana Panjebar Semangat – Jaya Baya di Surabaya, atau Jaka Lodang di Yogyakarta.

Dalam setiap KBJ berlangsung, narasinya selalu menggunakan Bahasa Indonesia untuk mengupas persoalan Bahasa Jawa. Orang Jawa menangisi akan punahnya Bahasa Jawa, tapi pakar Bahasa Indonesia seperti Anton Mulyono perbah bilang, “Tidak perlu ditangisi matinya Bahasa Jawa.” (Cantrik Metaram)

Advertisement