
TEKNOLOGI komunikasi dan informasi semakin maju dan canggih. Maka dalam suasana Lebaran masa kini terasa benar bedanya. Sejak masyarakat Indonesia kecanduan HP, baik yang masih sekedar bisa telepon dan SMS maupun yang sudah bisa kirim gambar dalam bentuk foto maupun video; industri kartu Lebaran pun tamat riwayatnya. Dulu Kantor Pos selalu melemburkan karyawannya untuk ngurus pengiriman kartu Lebaran, kini tinggal kenangan.
Kenapa masyarakat meninggalkan kartu lebaran tradisional? Karena sampainya ke alamat tujuan bisa berhari-hari. Sedangkan kini lewat WA maupun video call hanya dalam hitungan detik sudah ketemu sosok yang kita maksudkan. Padahal dulu di Kantor Pos Pasar Baru, Jakarta, banyak tukang penjual kartu lebaran. Bahkan pelukis amatiran juga banyak dikerumuni pemesan kartu lebaran yang ingin kartu yang dikirimkan ke sanak famili tampil beda. Lagi-lagi kini tinggal kenangan.
Tapi karena kemudahan teknologi informasi dan komunikasi, pengirim ucapan selamat Idul Fitri jadi kehilangan kreatifitas, sekaligus menghemat uang kertas. Generasi sekarang ogah mikir. Ngapain repot, tinggal berburu di grup WA mapun aplikasi medsos lainnya, begitu banyak teks ucapan Idul Fitri yang bagus. Nah, masyarakat tinggal comot di sana sini, dimodifikasi sedikit, dikirim langsung ke relasi. Beres!
Ada juga yang dilengkapi foto keluarga, bahkan dengan bentuk video bisa menjadi lebih menarik. Mau “siaran langsung” (videocall), tak perlu lagi bawa OB Van sebagaimana stasiun TV dulu, cukup pencet nomor orang yang dimaksudkan sudah bisa berdialog bla bla bla sampai ndower itu bibir. Yang penting stok pulsa paketan tetap aman sampai habis Lebaran.
Contoh ucapan selamat Idul Fitri buanyak banget, termasuk yang pakai Bahasa Jawa halus atau krama. Sampailah penulis menemukan sekumpulan teks Idul Fitri dari ebsite Insider. Kata adminnya, itu teks-teks uacapan Idul Fitri yang bagus. Padahal begitu penulis membacanya, rasanya mau tertawa berguling-guling. Sebab kelihatan sekali adminnya sendiri tidak paham bahasa Jawa, tapi berani mengklaim sabagai ucapan Lebaran yang bagus.
Sekedar contoh: Ngaturaken Sugeng Riyadin 1444 H. Mugi Allah SWT tansah pinaringan berkah kesehatan, berkah kabecikan, berkah tentrem, lan berkah kasenengan. Amin… Ini jelas kalimat yang salah fatal. Mestinya paring bukan pinaringan. Jika mengikuti bahasa pengirim ucapan, Allah Yang Maha Kuasa kok diberi oleh umatnya, harusnya kan memberi.Penggunaan kosa kata juga salah. Dalam bahasa Jawa krama, mestinya kesehatan menjadi kasarasaan, lalu kabecikan menjadi kasaenan. Demikian juga kata kasenengan, mestinya kabingahan.
Demikian juga yang ini: Ngaturaken Sugeng Riyadin 1444 H kagem bapak, ibu, lan kulawarga. Mugi Allah ingkang kawaos kersa maringi karunia kagem kita sedoyo. Seharusnya kata ingkang kawaos menjadi Ingkang Maha Kuwaos. Kosa kata karunia menjadi kamulyan.
Yang ini lebih kacau: Kulo ngaturaken Sugeng Riyadin 1444 H, mugi amal ibadah lan kurban kita sedoyo katampi dening Gusti Allah. Ini bagaimana sih? Baru hari raya Lebaran, sudah ngomong juga soal korban. Sabar, Idul Adha masih dua bulan lagi, jangan dicampur campur!
Itu sejumlah kesalahan mendasar dari website Insider. Kesalahan yang lain sebetulnya masih ombyokan. Misalnya, ucapan Lebaran tapi kok sama sekali tak ada ucapan: nyuwun pangapunten sadaya kalepatan (mohon maaf atas segala kesalahan. Lalu kata Sugeng Riyadin yang benar Sugeng Riyadi. Ejaannya juga salah. Sedaya jangan ditulis sedoyo. Kula jangan ditulis kulo, demikian pula kulawargo, harusnya kulawarga.
Tapi ejaan kacau untuk anak-anak sekarang ketika mengutip kosa kata Jawa, sudah menjadi gejala umum. Jangankan masyarakat biasa, wartawannya pun sama saja. Kata adik-adik, sekarang ditulis adek-adek, lalu kata Pak menjadi Pa, Mbak menjadi mba. Menulis isih (masih) jadi iseh, kemudian sing jadi seng. Bagaimana kalau menulis: mangan sing enak (makan yang enak), anak muda sekarang nulisnya menjadi: mangan seng enak. Makan tuh talang air, memangnya enak!
Padahal wartawan itu guru bahasanya masyarakat. Jika wartawannya salah, masyarakat yang tidak ngerti akan mengikuti. Wartawan sekelas Detikcom, Kompas.Com dan Tempo. Tanpa merasa bersalah rajin menyebut meninggal sebagai wafat, bahkan mangkat. Sekarang pejabatnya juga ikut-ikutan latah menyebut wafat, padahal itu mestinya untuk pejabat tinggi negara sekelas presiden. Adapun mangkat khusus untuk raja.
Jangan-jangan wartawan masa kini belajar Bahasa Indonesia pada tukang kijing (perajin batu nisan). Mereka melakukan itu karena untuk menghemat kata, tapi para pengrajin batu nisan tidak sadar bahwa istilahnya kemudian dipakai oleh wartawan sekarang. Wartawan yang kurang banyak membaca, yang jadi wartawan karena kepepet bukan karena bakat.(Cantrik Metaram)




