JAKARTA – Dampak polusi udara yang dihasilkan oleh asap kendaraan, pabrik, rokok, dan lainnya dapat memicu gangguan pernapasan seperti asma, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dan kanker paru-paru. Selain itu, pencemaran udara juga dapat mengakibatkan penurunan kadar oksigen dalam tubuh manusia.
Tidak hanya saluran pernapasan, sistem peredaran darah juga bisa terganggu oleh dampak polusi udara. Ini disebabkan oleh karbon monoksida (CO) yang jumlahnya cukup besar, sehingga meningkatkan kadar protein peradangan dan kekentalan darah. Hal ini memicu peradangan pada pembuluh darah yang dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular.
Menurut Feni Fitriani Taufik, seorang Spesialis Paru di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta Timur, kelompok yang paling rentan terpapar polusi udara adalah ibu hamil, balita, lansia, dan penderita penyakit paru.
Feni menjelaskan, pada ibu hamil, polusi udara dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan tinggi dan berat badan yang rendah, yang pada akhirnya dapat menyebabkan stunting dan memengaruhi pertumbuhan organ tubuhnya saat dewasa.
Pada anak-anak, polusi udara dapat mengganggu pertumbuhan paru-paru, pertumbuhan tubuh, dan menyebabkan gejala batuk-batuk serta asma.
Feni juga menyebut bahwa polutan yang memengaruhi anak-anak sejak usia dini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, asma, stroke usia dini, kanker paru-paru, PPOK, dan diabetes saat dewasa.
“Sedangkan pada anak terjadi gangguan pertumbuhan pada paru, pertumbuhan tubuhnya, bahkan stunting. Kemudian mudah terjadi gejala batuk-batuk dan keluhan asma, dan mulailah terjadi pengerasan pembuluh darah, karena sejak kecil, bahan-bahan polutan sudah mempengaruhi anak tersebut,” ujarnya, dilansir dari Antara, Kamis (24/8/2023).
Selain itu, organ pernapasan seperti paru-paru dapat mengalami penurunan kondisi, dan terdapat risiko demensia, gagal jantung, dan stroke.
Feni menjelaskan bahwa polutan terbagi menjadi gas dan partikel. Gas tersebut, kata dia, dapat menyebabkan iritasi, peradangan, dan sesak napas, seperti CO2 dan gas CO.
Sementara partikel seperti Volatile Organic Compound (VOC) dan Particulate Matter (PM) 2.5 dapat menyebabkan iritasi, peradangan, penyakit kanker, dan kerusakan pernapasan. PM 2.5 diduga menjadi penyebab peningkatan penyakit ISPA di kota-kota besar termasuk Jabodetabek.
“Karena sifatnya iritasi, ada keluhan akut baik oleh gas maupun partikel, itu mata jadi sering berair, hidung mampet dan tersumbat, sakit tenggorokan, gatal dan batuk-batuk, dan mudah terjadi ISPA,” tuturnya.
Feni menambahakn, partikel polusi berukuran mikrometer dapat disaring oleh hidung, tetapi partikel yang semakin kecil dapat masuk ke alveolus (kantong udara terkecil), aliran darah, dan berbahaya bagi kesehatan.
Orang yang tinggal di daerah berpolusi tinggi dapat mengalami penurunan sistem pertahanan tubuhnya. Bahkan setelah sembuh dari penyakit tertentu, tubuh mungkin tidak pulih sepenuhnya dan berisiko mengalami penyakit kronis lainnya.
Feni mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam mengurangi sumber polusi udara, seperti tidak membakar sampah, menggunakan transportasi umum, menjalani gaya hidup bersih dan sehat, serta berhenti merokok.
“Para pemangku kebijakan juga agar segera membuat undang-undang dan peraturan terkait pengurangan polusi udara, melakukan koordinasi lintas sektoral bersama akademisi dan profesi untuk memperbaiki kualitas udara,” tuturnya.





