
TERJANGAN balik topan Khanun dengan cepat ke wilayah yang dilalui sebelumnya yakni ke arah Pulau Okinawa, Jepang, Kamis hingga Jumat ini (4/8) menjadi fenomena yang perlu dicermati pakar klimatologi.
Topan Khanun (Nangka dalam bahasa Thai), menurut Badan Metereologi Jepang (JMA) dikutip Reuters, bergerak perlahan pada Kamis sore waktu setempat (3/8) ke arah barat laut China dengan kecepatan rata-rata 162 km kph (100 mph) dan hembusan hingga 234 kph (145 mph).
Khanun berbelok tajam ke arah timur pulau-pulau utama Jepang sehingga dianggap suatu yang tidak biasa terjadi, sementara badai sebelumnya mengakibatkan dua penduduk di prefektur Okinawa tewas dan 62 orang di Okinawa dan Kagoshima luka-luka.
Badai yang berbalik arah bukan sesuatu fenomena yang dianggap langka terjadi, namun yang dinilai tidak lazim, badai Khanun memutar balik secara mendadak dengan tajam.
Putusnya kabel listrik, mengakibatkan 230-ribu rumah atau sepertiga rumah di Okinawa kegelapan tanpa aliran listrik, sementara Bandara Naha di kota Okinawa yang merupakan salah satu destinasi wisata populer kembali dibuka Kamis pagi setelah berhenti beroperasi dua hari sebelumnya dan 304 penerbangan dibatalkan.
Sebanyak 7.000 rumah dilaporkan masih tanpa aliran listrik di gugus kepulauan Amami, Okinawa utara dan Okinawa sehingga rumah sakit di sana hanya menerima pasien gawat darurat.
Menurut JMA, dengan berputar baliknya badai Khanun ke Okinawa, kemungkinan China daratan dan Taiwan tidak akan dilewati lagi oleh badai tersebut.
Namun demikian, dengan kecepatan 162 km per jam dan embusan 100 km perjam, berarti saat bergerak kembali ke Jepang, sejumlah wilayah di selatan China dan timur laut Taiwan bakal terdampak hembusannya.
Fenomena topan berputar arah dengan cepat dan tajam perlu dicermati jika sewaktu-waktu menyambangi wilayah Indonesia.




