
KONTROVERSI muncul terkait pemberitaan bahwa Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta yang akan dioperasikan mulai April nanti rawan tsunami.
Isu tersebut diangkat oleh anggota Komisi V DPR dari F-Gerindra Bambang Haryo Soekartono dalam raker antara DPR dan Kementerian Perhubungan, 18 Maret lalu.
Menurut Bambang, ada sejumlah problem dalam pengerjaan proyek bandara NYIA terutama tanahnya yang bisa terancam likuifaksi (pembalikan permukaan lumpur seperti terjadi pada gempa di Palu beberapa waktu lalu) dan rawan tsunami karena hanya berjarak 400 meter dari bibir pantai.
“Jika terjadi gempa berkekuatan di atas 8 magnitudo yang berimbas air bah, limpasan geombang tsunami dari laut dikhawatirkan akan menyapu kawasan bandara, “ tuturnya.
Bambang mengaku, seorang konsultan Jepang yang tidak disebutkan namanya mengatakan, air dengan ketinggian 12 meter diprediksi dapat menyapu bandara, “ ujarnya
Sebaliknya Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di tempat terpisah mengklaim, berdasarkan kajian struktur bangunan, Bandara NYIA mampu bertahan terhadap bencana tsunami berskala besar berasal dari pantai selatan Yogyakarta.
Potensi bencana tsunami, menurut dia, merupakan salah satu risiko yang telah diantisipasi dan diperhitungkan dalam pembangunan bandara.
“Kami sudah memperhitungkan, menghadapi skala tsunami yang besar,
struktur bandara masih bisa bertahan,” kata Budi Karya.
Pemerintah telah menunjuk para ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), bahkan dari Jepang untuk mengantisipasi dampak tsunami berskala besar serta menyiapkan mitigasi bencana.
Salah satunya dengan membangun lantai terminal bandara dengan rentang ketinggian sampai delapan meter agar agar para penumpang bisa naik ke atas saat terjadi tsunami. Di kawasan tepi pantai juga akan ditanami pepohonan dan dibuat gundukan tanah guna menghalangi ombak menjangkau bandara.
Tahan gempa 8,8 SR
Sementara Project Manager NYIA Taochid Purnama Hadi meyakini seluruh bangunan bandara telah direncanakan tahan gempa hingga 8,8 Skala Richter (SR) serta tsunami hingga 12 meter.
Selain berada di delapan meter di atas permukaan laut, tutur Hadi, shelter yang dibangun di bandara juga disiapkan untuk menampung 1.000 orang warga di sekitarnya jika wilayah itu diterjang tsunami.
“Lantai dua terminal bandara berada di di plus 15 meter artinya ketika terjadi tsunami (12 meter) masih aman,” kata dia.
PT Angkasa Pura I selaku pengelola juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo untuk memanfaatkan kawasan tepi pantai sebagai penyangga bandara. Nantinya, di daerah penyangga itu akan ditanami vegetasi yang bisa berfungsi sebagai penghalau tsunami.
Sebelumnya, perekayasa BPPT Widjo Kongko mengingatkan perlu adanya kepastian pembangunan infrastruktur penghalang tsunami di kawasan NYIA untuk mengantisipasi potensi tsunami dengan ketinggian 10-15 meter di bibir pantai Kulon Progo.
Widjo mengungkapkan ada potensi tsunami dengan tinggi gelombang 10-15 meter di bibir pantai yang berjarak 300 meter dari area landas pacu NYIA, terutama jika terjadi gempa megathrust dengan magnitude 8,5 sampai 9 SR.
Selain membangun gumuk pasir, kata Widjo, dampak tsunami bisa ditekan dengan membangun sabuk hijau berupa penanaman pepohonan di kawasan selatan bandara.
Mitigasi mutlak dilakukan sebelum becana tiba.




