Bangga Dengan Nama Asing

Upacara pemberian gelar bangsawan di Kraton Surakarta Hadiningrat.

ORANG Indonesia tak hanya membanggakan barang-barang produk asing, sampai nama-nama asing pun juga sangat dibanggakannya. Jadilah kemudian manusia Indonesia yang kebarat-baratan. Karenanya banyak orang terkecoh. Baru lihat namanya saja sudah membayangkan orang Barat, tapi begitu lihat tampangnya; ternyata berkulit sawo matang dan hidungnya pun mancung ke dalam. Tapi mau bagaimana lagi, pujangga Inggris William Shakespeare bilang, “Apalah artinya sebuah nama?”

Daftar nama pada pengumuman SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) atau daftar manifest pesawat Indonesia yang jatuh, kini banyak sekali nama-nama yang berbau Barat.  Misalnya: Franky, Richard, Silvester, Frederick,  Grayson, Herbert, Kevin, Michele, Reggy, Angelina, Steven, Mathew, David, Caroline, dan Sergio. Tapi jangan salah, mereka bukan WNA, tapi WNI yang sehari-hari makan nasi dengan lauk tempe bacem dan sayur lodeh.

Ketika populasi orang berjilbab dan berjenggot di dalam negeri terus bertambah, kini banyak ditemukan nama-nama berbau Timur Tengah, seperti: Lutfi, Mubarok, Zahro, Multazam, Uswatun, Khasanah, Akbar, Saiful, Abu Sofyan, Alfarisi, dan masih banyak lagi. Tapi sebagai bangsa yang 90 % umatnya beragama Islam, nama-nama Timur Tengah tak begitu asing, karena sejak kecil sering mendengar nama-nama berbau islami.

Dalam Islam diyakini bahwa nama itu adalah doa. Orangtua memberi nama anaknya Uswatun Khasanah, dengan harapan akan menjadi petunjuk yang baik. Diberi nama Zahro, dengan maksud agar anak itu berbau wangi seperti bunga. Begitu pula yang memberi nama anaknya Rizki Akbari, pasti orangtua berharap nantinya anak itu selaku gede rejekinya. Tapi ada juga nama berbau Timur Tengah yang indah, tapi tak ada yang mau menggunakannya, misalnya: Adzabun Syadid.

Orangtua memberi nama anak memang kuat dipengaruhi oleh pengaruh zaman dan lingkungan. Ada keluarga Bengkulu yang karena bergaul akrab dengan penduduk transmigran dari Jawa, maka memberi nama anak-anaknya sebagai: Sumanto, Wartini. Tak usah jauh-jauh, Gubernur Ahok punya nama Basuki Tjahaja Purnama, karena orangtuanya yang Tionghoa berkawan akrab orang Jawa. Maka adik-adiknya pun diberi nama Basuri dan Harry. Bahkan nama ibunya pun sangat kejawaan: Buniarti Ningsih.

Sedangkan orang Jawa generasi muda, secara pelan tapi pasti kini banyak yang telah meninggalkan nama-nama Jawa dan berbau van dorp (dari kampung). Tak ada lagi bayi produk tahun 2000 bernama Bejo, Slamet, Kemino, Tukidi, Kliwon untuk lelaki; atau Jemini, Tuyem, Ngatilah, Sarkini, Paini, Paerah dan Caskinah. Biarpun tinggal di desa, meski kakak-kakaknya masih bernama Tusini dan Tarmin, dengan bangga memberi nama anak: Mutakin. Bahkan tukang macul pun kasih nama anak: Panji Asmoro.

Nama memang tidak beli, dan belum pernah ada  DPR membahas RUU tentang nama. Namun demikian manusia Jawa generasi masa lalu sangat sensitip soal nama. Sebuah nama seyogyanya disesuaikan dengan kalungguhan (profesi). Jika pekerjaannya menggembalakan kerbau, pakai nama tua Siswosumarto, pastilah akan dicemooh tetangga. Sebab nama tua untuk pekerja kasar yang lazim pakai nama depan: Kromo, Jaya, Wongso.

Nama-nama yang dipakai keluarga kerajaan selalu indah terdengar, karena sarat dengan makna. Nama: Hamengkubuwono (mengelola dunia), Pakubuwono (paku dunia), Mangkunagoro (mengelola negara), Pakualam (paku dunia); adalah nama monopoli keturunan raja-raja Mataram. Meski tak ada sanksi hukumnya, tak ada orang di luar Kraton berani menggunakan nama itu.

Tapi kini banyak juga bukan orang Jawa yang bernama bangsawan Kraton, berkat pemberian gelar (anon-anon) dari Kraton Surakarta. Misalnya nama: KRT Harjonagoro, KRMT Natanagoro, KRT Reksonagoro. Tapi asal tahu saja, banyak juga di antara penerima nama bangsawan itu harus menyumbang dana (panjurung) ke kas Kraton.  (Cantrik Metaram)

 

 

 

Advertisement