LIMAPULUH KOTA—Bencana banjir dan longsor yang terjadi di Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota disinyalir karena aktivitas tambang. Pengakuan warga setempat menyebutkan, hampir tiap hari dinamit diledakkan penambang, sehingga meretakkan tanah di perbukitan. Saat hujan, retakan tanah itu dimasuki air sehingga menyebabkan longsor.
“Ada 5 perusahaan tambang berskala besar dengan meledakkan dinamit untuk memecah bongkahan batu yang ada,” ujar seorang sumber yang tidak mau disebutkan namanya kepada Haluan, Selasa (7/3/2017).
Ia menjelaskan, saat beroperasi, satu perusahaan tambang setidaknya meledakkan dinamit dua kali dalam seminggu untuk. “Peledakan dinamit silih berganti antar perusahaan tambang. Kalau dihitung, memang hampir setiap hari ada peledakan dinamit,” tambahnya.
Diamini tokoh masyarakat Pangkalan, Asyirwan Yunus, tanah longsor yang terjadi menimpa sepanjang jalan Sumbar-Riau tersebut ada pengaruh dari aktifitas tambang. Hal itu didasari, jarak antara titik longsor, tidak jauh dari lokasi tambang. Hanya hitungan kilometer. “Kita menduga, ini pengaruh ledakan dinamit, sehingga merusak struktur tanah,” terang Asyirwan. Haluan





