ALIH-ALIH mematuhi seruan komunitas dunia untuk menghentikan peluncuran rudal balistik dan di tengah perang kata dan saling usir dubes dengan Malaysia terkait kematian misterius Kim Jong Nam, Korea Utara tetap bergeming, terus mengujicoba rudal-rudalnya.
Kosa kata “ngledek” dalam kamus bahasa Betawi mungkin pas untuk menggambarkan ujicoba rudal yang diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit di Tongchang-ri, Korut (6/3).
Uji coba rudal tersebut membuat gusar Jepang, karena tiga dari empat rudal yang diluncurkan, jatuh di kawasan ekonomi ekslusif (ZEE) di perairan lautnya. Korsel, tetangga sebelah sesama bangsa Korea yang masih dalam status siaga perang dengan Korut tentu menjadi pihak yang paling cemas.
Tidak hanya Jepang dan Korsel serta sekutu utama keduanya, Amerika Serikat yang ketar-ketir mengamati ujicoba rudal-rudal Korut berdaya jangkau jauh dan mampu mengangkut hulu ledak nuklir (nuclear warhead).
Bahkan Tiongkok, jiran sekaligus mitra bisnis utama dan juga pendukung Korut di sejumlah isu, menghentikan impor batubara sejak di penghujung 2016 sebagai aksi yang menunjukkan ketidaksenangan terhadap ujicoba rudal yang dilakukan Korut.
Padahal, bagi Korut yang terkucil dari pergaulan internasional, batubara adalah komoditi ekspor unggulan yang diandalkan bagi pemasukan kocek negara, termasuk untuk membiayai peluncuran rudal.
Korut sendiri berdalih, ujicoba rudal dilakukan untuk merespons latihan bersama AS dan Korsel yang dianggap sebagai kegiatan mengarah pada perang yang akan menjadikan kawasan semenanjung Korea dan Asia Timur menghadapi bencana nuklir.
Uji coba rudal kali ini adalah yang kedua setelah peluncuran rudal jenis baru Pukguksong (Bintang Utara) berbahan bahan padat Februari lalu setelah eberapa kali ujicoba peluncuran rudal lainnya gagal sepanjang 2015.
Rudal Pukguksong atau “Bintang Utara” yang dirancang untuk menjangkau sasaran sejauh 2.000 Km dan berkemampuan memuat hulu ledak nuklir, berhasil melayang pada ketinggian 550 Km di atas ufuk sebelum jatuh di Laut Jepang, 500 km dari lokasi peluncuran. Sejauh ini tidak diketahui, jenis dan spesifikasi rudal yang diluncurkan Minggu lalu.
Anggaran Pertahanan AS
Potensi ancaman rudal Korut agaknya juga sudah diantisipasi oleh Presiden AS, Donald Trump yang menaikkan 10 persen anggaran belanja pertahanannya menjadi 650 juta dollar AS (sekitar Rp8.000 triliun).
Sebagian anggaran kemungkinan dialoaksikan untuk mengembangkan sistem area pertahanan anti rudal di ufuk tinggi (Terminal High Altitude Area Defense – THAAD) guna memayungi mitranya Korsel dan Jepang.
THAAD berupa rudal tanpa hulu ledak (warhead) yang berfungsi memburu, kemudian menabrak rudal lawan guna melindungi Korsel dan Jepang.
Sementara ini, hubungan Malaysia dan Korut semakin memburuk pasca kematian Kim Jong Nam, kakak tiri Presiden Kim Jong Un, yang tewas, kemungkinan menghirup racun mematikan VX (venomous agent) di Bandara Kuala Lumpur (13/2) yang diusapkan ke wajahnya oleh dua perempuan , salah satu tersangkanya, WNI bernama Siti Aisyah.
Korut menolak jasad Jong Nam divisum oleh otoritas Malaysia dan meminta untuk dikembalikan ke Korut serta menuding Malaysia berkonspirasi dengan musuh-musuh Korut untuk merekayasa kasus kematian sang pembelot, saudara tua sekaligus seteru Presiden Kim Jong Un.
Malaysia sendiri bersikeras, menganggap otopsi jenasah harus dilakukan guna mengetahui sebab kematian dan jenis racun yang digunakan, mengingat peristiwanya terjadi di wilayah yurisdiksinya.
Hubungan diplomatik Korut dan Malaysia mencapai titik beku dengan saling usir diplomat masing-masing. Malaysia telah mempersona non grata atau mengusir Dubes Korut di negara itu, Kim Chol, sebaliknya Korut juga melakukan aksi balasan dengan mengusir Dubes Malaysia di Pyongyang, Moh. Nizan Mohammad.
Bahkan perseteruan kedua negara merambah ranah olahraga. Malaysia melarang timnas sepakbolanya melakukan lawatan tandang kualifikasi Piala Asia 2019 yang sedianya dilangsungkan di Pyongyang, 28 Maret.
Ujicoba rudal tampaknya akan terus berlangsung dan kematian Kim Jong Nam tetap menjadi misteri.
Yang jelas Korut telah sukses membuat heboh dunia dan menjadi bahan berita.





