JEDDAH—Klaim Departemen Luar Negeri AS yang mengatakan para wanita di Arab Saudi “tertindas” oleh sistem dan budaya dibantah keras. Lina Almaeena, pendiri dan CEO Jeddah United Sports Company mengatakan, wanita Saudi memiliki kelonggaran dalam beraktivitas.
Disitat dari Arab News, Kamis (23/6/2016), Lina mengatakan, di seluruh dunia, kaum perempuan telah mengalami transformasi. Demikian halnya di Saudi, kata Lina, kaum wanita telah menempati posisi-posisi strategis di berbagai bidang.
“Kami (masyarakat Arab] berkembang. Seperti sekarang perempuan sudah menjadi bagian dari Dewan Syura (MPR). Itu tak terpikirkan di masa lalu. Perubahan adalah suatu proses dan itu terjadi di Arab Saudi,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan VOA.
Sementara itu, Allen Keiswetter, seorang sarjana di Washington’s Middle East Institute, setuju dengan gagasan perubahan yang terjadi Arab Saudi berkaitan dengan hak-hak perempuan. Meskipun katanya, prosesnya relatif lebih lambat. Menurutnya, akses pendidikan yang luas akan meningkatkan kesempatan bagi perempuan di sana.
Thuraya E. Al-Arrayed, anggota Dewan Syura Saudi mengatakan, perempuan memiliki kekuatan tersendiri di badan konsultatif ini. “Laporan dari semua kementerian juga kita dapati. Kita membaca laporan-laporan ini dengan hati-hati dan melihat apakah kita setuju dengan apa yang mereka minta. Keputusan raja didasarkan pada apa yang kami sarankan,” jelasnya menujukkan peran anggota Dewan Syura wanita.
Di tempat terpisah, Ghadah Al-Ghunaim mengatakan, banyak orang Barat yang salah dalam melihat hijab, yang dianggapnya sebagai tanda diskriminasi tapi ini salah. Dia mengatakan jilbab, apakah dikenakan untuk alasan agama atau tradisional, adalah tanda kehormatan, sebagaimana Bunda Maria yang juga mengenakan jilbab.




