Banyak Janda Perlu Disantuni

Santunan Janda
Santunan Janda

ADA info menarik dari Badilag (Badan Peradilan Agama) MA, hingga Oktober 2016 ini terdapat janda baru 212.000 di seluruh Indonesia. Untuk Jakarta saja telah menyumbangkan angka 5.490 janda baru. Ditambah dengan janda-janda lama akibat cerai mati, jumlahnya kemungkinan bisa menjadi dua kali lipat. Banyak janda yang perlu disantuni, kata ustadz sejuta umat KH Zainuddin MZ almarhum. Perlu bentuk Partai Karya Peduli Janda, kata politisi korban perpecahan partai.

Predikat janda itu status yang sangat tidak nyaman, tapi karena takdir tak bisa dielakkan dan dihindari. Hanya segelintir orang yang justru menikmati status kejandaannya. Ini jelas wanita yang sangat tebal iman, tidak hanya memikirkan “si imin”. Sebab ada hadits Nabi yang mengatakan, “Surgalah balasannya bagi wanita janda yang memilih tidak menikah lagi demi membesarkan anak-anaknya.”

Itulah wanita-wanita bijak. Sebab di era gombalisasi ini, banyak pula wanita yang lebih memikirkan “surga dunia” ketimbang surga di yaumil akhir nanti. Demi “surga dunia” itu tadi, dia tak mempedulikan anak-anaknya. Padahal banyak suami pengganti yang kemudian menjelma menjadi predator rumah tangga. Lihat berita di koran dan TV, begitu banyak lelaki yang “makan” anak tirinya. Karena sudah didominasi setan, emak dan anak baginya sama-sama enak!

Jika bisa memilih, wanita berharap memperoleh status janda ketika sudah berumur 70 tahun ke atas. Tapi jika Allah menakdirkan lain, dalam usia 25-40 tahun sudah menyandang predikat itu. Bagi yang berwajah cantik, akan mendapat “teror” baik secara eksternal maupun internal. Eksternal maksudnya: dia akan selalu dicurigai tetangga, kalau-kalau merebut suaminya. Sedangkan internal, karena dia harus melawan geliat “hasrat”-nya yang tak kesampaian semenjak hidup tanpa suami.

Orang Surabaya punya ungkapan: dadi randha ngentekna klasa . Memangnya seorang janda doyan makan tikar? Jelas tidak. Kalimat itu hanya ingin mengatakan bahwa hidup menjanda menjadikan dirinya kesepian. Alkisah, ada seorang janda baru habis ditinggal mati suami. Setiap pagi siang dan sore ke makam melulu. Di sana lalu mengipasi gundukan makam suaminya tersebut tanpa mengenal lelah. Tetangga sangat salut atas kesetiaan wanita itu. Tapi suatu hari dia bercerita, “Suamiku berwasiat, kamu boleh menikah lagi jika tanah kuburanku sudah kering.” Woo……..

Tapi tidaklah selalu wanita janda ingin buru-buru menikah lagi karena faktor kebutuhan biologis. Paling banyak tentunya karena pertimbangan ekonomi, terutama bagi ibu-ibu yang selama ini benar-benar ibu rumahtangga, bukan wanita karier. Dengan adanya suami baru, kebutuhan ekonomi otomatis ada penanggungjawabnya, meski bukan pemimpin redaksi.

Almarhum dai sejuta umat KH. Zainuddin MZ seringkali mengatakan, “Banyak janda yang perlu disantuni.” Ini tentunya merujuk sikap Nabi Muhammad SAW yang memilih menikahi sejumlah janda dengan pertimbangan untuk meningkatkan kesejahteraannya. Manusia sekarang mampukah bersikap seperti Nabi? Kebanyakan yang dipilih tentu janda muda nan cantik, karena targetnya bukan sekedar menyantuni tapi juga sekalian……menggumuli.

Setelah era reformasi banyak partai baru bermunculan. Di antaranya ada Partai Karya Peduli Bangsa, Partai Karya Peduli Nusantara. Merujuk data dari Badilag MA tersebut di atas, politisi yang jadi korban perpecahan partai kenapa tidak bikin partai baru, misalnya: Partai Karya Peduli Janda? Lebih dari 212.000 janda baru hadir di republik ini. Itu baru janda karena perceraian, ditambah janda-janda karena ditinggal mati, jumlahnya bisa menjadi 2 kali lipat. Itu sangat potensial menjadi anggota. (Cantrik Metaram)

Advertisement