BANYAK pemimpin atau orang besar di negeri ini, bisa menyelesaikan pendidikannya berkat bea siswa Yayasan “Super Semar” (YSS). Tapi karena Pak Harto selaku pendiri kemudian menyelewengkan sebagian dana itu untuk pengusaha dan tak pernah kembali, pemerintah pasca Orde Baru pun menggugatnya. Berdasarkan putusan Pengadilan, YSS untuk nilai sekarang harus kembalikan ke negara Rp 4,4 triliun. Lantaran tak mampu, kini aset miliknya disita dan rekening banknya diblokir.Maka sejak 2 tahun lalu pelajar-mahasiswa penerima beasiswa YSS terlantar jadinya..
Sebetulnya YSS itu milik pribadi Pak Harto atau milik negara? Musti dilihat dulu akte pendiriannya di notaris dulu. Atas nama pribadi Soeharto, atau Presiden Soeharto? Jika atas nama pribadi, tak ada urusan dengan pemerintah, dengan kata lain negara tak bisa mencampuri. Tapi kemungkinan besar atas nama Presiden Soeharto. Logikanya, jika nama pribadi, mana bisa Pak Harto menekan BUMN untuk menyerahkan 5 % keuntungannya kepada YSS. Dan para BUMN itupun takkan mau memberikan uangnya gratis kepada pribadi Pak Harto.
Tujuan pendirian YSS memang mulia, untuk membantu pendidikan pelajar-mahasiswa pintar dari kalangan keluarga tidak mampu. Sebab tidak semua anak pintar, orangtuanya juga pintar cari duit. Tapi dengan beasiswa YSS si anak bisa menyelesaikan pendidikannnya. Insya Allah akan terjamin kesejahteraannya di masa depan, sukur-sukur menjadi tokoh penting, ikut mengatur jalannya pemerintahan.
Alhamdulillah, dari penerima beasiswa YSS sepertinya tak ada yang “balung kere” alias bakat jadi si miskin. Mereka banyak yang menjadi orang sukses, bahkan jadi orang besar. Contohnya Prof. Dr. Mahfud MD, dia adalah penerima beasiswa YSS, yang kemudian menjadi Menteri Pertahanan, Guru Besar UII, Ketua MK bahkan pernah jadi kandidat Cawapres kubu Jokowi.
Yang lain bisa disebut Prof. Dr. Nazarudin Umar yang Imam Besar mesjid Istiqlal, Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Alquran, dosen berbagai perguruan tinggi, bahkan pernah juga mengelola YSS. Yang lain adalah, Mensekab Pramono Anung. Bahkan Titiek Soeharto pembina YSS mengklaim 70 % rektor universitas negeri di Indonesia dulu pernah menikmati beasiswa YSS.
Jika itu tujuan Pak Harto, tercapailah sudah. Banyak penerima beasiswa YSS jadi orang besar, yang penting –di masa Orde Baru– jangan sampai menyaingi jadi presiden. Sayangnya YSS keuangannya tertutup, tak dikontrol lembaga negara, kecuali hanya intern orang-orang di lingkaran Soeharto. Dengan alasan untuk mengembangkan dana tersebut, uang YSS sebagian besar digunakan untuk membeli saham perusahaan kroni-kroni Pak Harto.
Meskipun dana tersebut akhirnya tak kembali, di masa Pak Harto berkuasa, aman-aman saja, tak ada yang mempertanyakan. Tapi setelah era reformasi, di era pemerintahabn Gus Dur dana YSS mulai diusut. Jaksa Agung memastikan tak ada penyelewengan, sehingga gugatan ke YSS dihentikan. Tapi di era SBY digugat lagi dan akhirnya YSS dinyatakan bersalah. Sayangnya salinan amar keputusan MA terjadi kesalahan ketik, seharusnya YSS didenda Rp 139,2 miliar kleru jadi Rp 139,2 juta, gara-gara sejumlah nolnya tercecer entah ke mana.
Itu terjadi tahun 2010. Tahun 2013 di PK lagi dan keputusan MA di 2015 mengharuskan YSS membayar pada negara Rp 4,4 triliun. Tapi karena tak kunjung dibayar akhirnya sejumlah aset YSS disita, di antaranya gedung Granadi di Jl. Rasuna Said Kuningan, sejumlah tanah dan kendaraan.
YSS berdiri tahun 1974, dan mulai tahun 1975 hingga 2014, YSS telah mengeluarkan beasiswa sebanyak Rp 702 miliar lebih, untuk membiayai 2.007.474 orang, terdiri dari mahasiswa S1 499.153, mahasiswa S2 dan S3 7.535, pelajar SMK 973.816, atlet/pelatih 13.024, dan anak asuh 513.474. Tapi sejak dibekukan tahun 2015 lalu, YSS tak bisa lagi membagikan beasiswa. Kata Titiek Soeharto, “Ini sama saja pemerintah menghalang-halangi rejeki orang.” Barapa ribu mahasiswa yang kandas studinya gara-gara beasiswa distop. (Cantrik Metaram)





