CINA – Kawasan Cina utara termasuk ibu kota, Beijing, dilanda badai debu yang menunjukan krisis kualitas udara di negara tersebut dimana kualitas udara resmi telah melonjak jauh di atas batas yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pihak berwenang menasihati warga untuk menghindari aktivitas di luar ruangan dan anak-anak juga orang lanjut usia disarankan tetap tinggal di dalam rumah.
Debu bertiup dari Mongolia dan Kawasan Otonomi Mongolia Dalam China. WHO mengatakan tingkat aman maksimum harus 25 mikrogram per meter kubik.
Pihak berwenang mengatakan Beijing akan terpengaruh badai debu sampai Kamis (4/5/2017) malam dan jarak pandang akan terasa rendah sepanjang hari.
Akibatnya, puluhan penerbangan telah tertunda atau dibatalkan. Media pemerintah mengutip pejabat kota mengatakan bahwa badai debu mulai bergerak menuju Beijing pada sore hari Rabu, dan menyelimuti kota tersebut dalam semalam.
Badai debu juga telah mempengaruhi dengan tingkat yang bervariasi, dimana bentangan luas wilayah utara China membentang dari provinsi Xinjiang sampai Heilongjiang bagian timur, dengan Mongolia yang berada dalam kondisi sangat buruk.
Orang-orang China, seperti biasa, tidak ragu-ragu untuk beralih ke media sosial untuk melampiaskan rasa frustrasi mereka. “Sandstorm sedang memukul Beijing, saya merasa lebih dekat dengan kanker paru-paru,” kata seorang commenter pada jaringan microblogging Sina Weibo.
Yang lainnya membuat perbandingan dengan masalah asap terkenal di ibukota.
“Jika saya harus memilih seseorang untuk tinggal, antara badai pasir dan asap, saya lebih memilih yang pertama,” kata komentator Weibo yang lain, seperti dilansir BBC.
China telah mengalami polusi udara yang sangat intens dalam beberapa tahun terakhir, terutama di musim dingin karena banyak kota di utara masih mengandalkan pembakaran batubara untuk pemanasan.
Tapi juga semakin terpengaruh oleh badai debu, karena kota-kotanya berkembang menuju padang pasir terdekat yang pada gilirannya telah menyebar karena perubahan iklim.





