Bekas Hutan Belantara, Jalur Lingkar Barat Purwakarta Rawan Longsor

Ilustrasi Jalan trans Kalimantan Berau-Bulungan Amblas/ Humas Pemprov Kaltara via Tempo.co

PURWAKARTA – Musim penghujan membuat jalur lingkar barat yang menghubungkan antar kecamatan dengan wilayah seberang Waduk Jatiluhur rawan amblas dan longsor.

Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Purwakarta, Budi Supriyadi, mengatakan karena jalur baru tersebut kontur tanahnya labil.

Menurutnya juga sangat wajar bila jalur lingkar barat itu rawan amblas dan longsor. Sebab, jalur itu awalnya hutan belantara. Saat ini, jadi jalan. Sehingga, tanahnya masih labil. Apalagi, proses pengerasan jalannya terhitung cukup singkat.

“Kami ini mengejar kebutuhan masyarakat dulu. Makanya, setelah hutan belantara dibuka, jalur tersebut dikeraskan lalu dibeton,” ujar Budi, kepada Republika, Rabu (22/2/2017).

Dari jalan yang panjangnya mencapai 57 kilometer, ada sejumlah titik yang diwaspadai rawan longsor dan ambles. Misalnya di Sukamukti dan Ciririp. Karena itu, setelah proyek jalan ini selesai, pihaknya akan memerlakukan jalur tersebut dengan berbeda. Terutama di titik-titik yang diwaspadai.

Jika biasanya jalan yang rawan ambles akan diprioritaskan pembangunan drainasenya. Tetapi, karena pembangunan jalan lingkar barat ini sudah sangat urgent, maka yang pertama kali dibangun adalah badan jalannya dulu.

Sedangkan untuk perlakuan jalan yang rawan longsor tentu berbeda dengan rawan ambles. Untuk yang rawan longsor, pihaknya akan segera membangun tembok penahan tanah (PTP). Akan tetapi, pembangunan drainase dan PTP ini, baru bisa dilaksanakan usai bahu jalan lingkar barat rampung dikerjakan.

“Tahun ini, pekerjaan lingkar barat selesai. Setelah itu, kita akan fokus pada pemeliharaan. Termasuk, solusi bagi titik-titik yang rawan amblas dan longsor,” jelasnya.

Advertisement