Saudaraku, setelah lebih dari tujuh dekade kolonialisme berlalu, tampaknya bangsa Indonesia masih harus berjuang untuk belajar merdeka. Warisan penindasan terlama dari penjajahan bukanlah pengurasan sumberdaya alam, pengalaman penderitaan dan penghilangan nyawa manusia, melainkan perbudakan mental-kejiwaan (mind).
Mental-kejiwaan adalah pusat eksistensi dan identitas manusia. Dengan itulah manusia memiliki pengalaman merasakan, mengingat, menalar, membayangkan, mengarahkan tindakan, dan mengomunikasikan kehidupannya. Hidup di bawah kendali penjajah merampas kebebasan manusia, membuat mental-kejiwaannya terpasung, terkorupsi dan teralienasi. Ketidakbebasan hidup menjadikannya tercerabut dari memori kesejarahan, terputus dari ikatan sosial, terusir dari ruang hidup, dan terhadang kemampuannya untuk memilih dan mengembangkan diri.
Kolonialisme berlalu dengan meninggalkan residu perbudakan mental ini. Manusia-bangsa Indonesia secara umum masih kurang mengenal dan menghargai diri, kurang percaya diri, kurang aktualisasi diri, lemah pendirian, dan lemah kepribadian. Jika disederhanakan, manusia-bangsa Indonesia kurang memiliki mentalitas kemandirian.
Rendahnya mentalitas kemandirian membuat prilaku manusia-bangsa Indonesia kerap terperangkap dalam dua pilihan ekstrem. Pertama, mental orang (kaum) terjajah itu sering terobsesi untuk meniru perangai tuannya, dengan konsekuensi melakukan apa saja yang orang (bangsa) lain lakukan, yang mendorong mentalitas konformis, peniru dan pembebek. Kedua, mental terjajah itu biasanya menuruti apa yang dikehendaki tuannya, dengan konsekuensi melakukan apa saja yang diinginkan orang (bangsa) lain, yang menyuburkan mentalitas pecundang dan totalitarian. (Belajar Merunduk, YL).



