Gerakan Tanah Lebih ‘Killer’ Dibanding Erupsi

Foto Ilustrasi

BANDUNG – Gerakan tanah menjadi salah satu penyebab bencana alam yang paling menakutkan dibandingkan erupsi, yang dapat berujung pada bencana longsor hingga banjir bandang.

Kepala Badan Geologi,  Ego Syachrial mengatakan, persentase korban bencana alam dari gerakan tanah yang berujung dengan longsor hingga banjir bandang, paling banyak di Jawa Barat.

Dari catatannya, tahun 2005 terdapat 1,667 kejadian, 3011 meninggal dunia dan rata rata 40 persen dari jumlah itu di Jawa Barat. (Baca Juga: Bencana Pergerakan Tanah, Ratusan Rumah di Sukabumi Rusak )

” Dari 2005 sampai 2015, catatan kami lebih dari 3 ribu orang meninggal karena gerakan tanah. Ini seluruh Indonesia, namun dominan memang di Jawa Barat,” ungkap Ego di Bandung, Kamis (10/11/2016), seperti dilansir Fokus Jabar.

Menurutnya, bencana alam dari potensi gerakan tanah sangat diwaspadai dan sangat menakutkan jika disebabkan adanya campur tangan manusia seperti alih fungsi lahan, pembiaran buang sampah sembarangan.

“Kalau kita bandingkan, gerakan tanah ini merupakan paling Killer. Kalau erupsi sama gempa kan jarang, tapi kalau ini terus terjadinya itu besar sekali,” jelasnya.

Sebelumnya, Pusat Vulkonologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, 27 Kabupaten Kota se Jawa Barat memiliki potensi gerakan tanah tingkat menengah dan banjir bandang.

Ego memastikan, kontur tanah Jawa Barat bersifat lembek dan mudah menyerap air. Oleh karena itu, bencana alam banjir bandang dan gempa yang pernah terjadi, bukan perkara aneh.

“Jawa Barat ini secara morfologi wilayahnya lereng lereng, tanahnya gembur dan bersifat sensitif terhadap air. Memang Jawa Barat ini typical batuannya dan permukaan tanah, sangat rentan pergerakan tanah,” kata Ego di Kantor Geologi jalan Diponegoro Kota Bandung, Kamis (10/11/2016).

Ia juga meningatkan jika cmpur tangan manusia di sektor alam dengan mengubah fungsi lahan yang seharusnya menjadi resapan air, menjadi penyebab utama bencana terjadi.

Menurutnya, permasalahan yang terjadi saat ini yaitu alih fungsi lahan kawasan hulu. Yang seharusnya kuat menampung air, namun dijadikan tempat bercocok tanam, seiring waktu kekuatan daya tampung menurun.

“Alih fungsi lahan sebenarnya pemicu. Kita lihat saja, Bandung ini dialiri 12 sampai 13 sungai. Ini karena ada penyempitan dan pendangkalan. Ulah aktivitas manusia sangat dominan jadi penyebab kebencanaan geologi,” terangnya.

Advertisement