Bentrok (Oknum) TNI dan Polri: Cuma Salah Paham?

Pangdam I Bukit Barisan Mayjen MS Fadhilah (kiri) dan Kapolda Sumut Irjen. Pol Martuani Sormin berjabatan tangan pasca peristiwa bentrok antara puluhan oknum TNI Yon 123/RW dan aparat Polsek Pahae Jae, Tapanuli Selatan (27/2) karena dugaan pelanggaran lalu-lintas.

ENAM angota polisi termasuk Kapolsek Pahae Jae, Tananuli Utara dan  seorang warga sipil luka-luka (27/2) akibat dikeroyok oleh puluhan oknum Batalyon 123/RW Kodam I Bukit Barisan  hanya gara-gara salah paham di tengah kemacetan lalu-lintas.

Awalnya, anggota satuan Yon 123/RW yang menaiki iring-iringan truk  tidak terima distop dan ditegur oleh anggota Polsek Pahae Julu karena menerobos jalur berlawanan sehingga memperparah arus lalu-lintas di jalan raya Tarutung – Sipirok yang saat itu memang sedang macet karena ada truk terguling.

Rombongan satuan infantri tersebut semula datang dari arah Tapanuli Selatan untuk kembali ke markasnya di Lapo Gambir, Tapanuli Utara.

Komandan Kompi Yon 123/RW Kapten Ridwan yang terlibat cekcok dilaporkan menampar Kapolsek Pahae Julu AKP Ramot G Nababan, lalu   beberapa jam setelah itu puluhan anggotanya kembali menyambangi Mapolsek , menganiaya lima anggota polsek dan seorang warga yang melintas.

Seperti biasa, kejadian memalukan yang dilakukan oknum-oknum TNI yang yang ditempa disiplin tinggi sehingga seharusnya menjunjung tinggi Sapta Marga dan Sumpah Prajurit diselesaikan dengan saling memaafkan dan dianggap kesalaha pahaman biasa.

Dalam pertemuan di Balai Prajurit Kodam I BB Mayjen TNI MS Fadhilah meminta maaf pada Kapolda Sumut Irjen. Pol. Martuani Sormin dan masyarakat atas kejadian itu.

Keduanya menyatakan bahwa kejadian itu hanya kesalah pahaman biasa, dan hal senada juga disampaikan oleh Dandim 0210/TU Letkol Czi Roni Agus Widodo dan Kasubag Humas Polres Tapanuli Utara Aiptu W Baringbing.

“Tidak apa-apa. Sudah baik-baikan, cuma selisih paham saja,” ujar Baringbing lewat pesan Wa, sementara Kapolda menyebutkan hal itu sebagai salah persepsi antara keduanya.

Ucapan Klise: ”Cuma Salah Paham”

Pangdam kepada Kompas TV juga mengemukakan, bentrokan terjadi antara oknum, bukan antarinstitusi, cuma kesalah pahaman dan  kini situasi sudah kondusif .

Bentrok fisik , bahkan berujung maut antaroknum sesama satuan TNI dan antara TNI dan Polri bukan kejadian kali ini saja tetapi sudah acap kali, dan penyebabnya selalu klise  “cuma kesalah pahaman”.

Kadang-kadang modus pemicunya cuma hal-hal sepele, senggolan antara kendaraan atau di lokasi keramaian, persoalan pribadi (seperti berebut wanita) atau hanya saling tatap mata atau “backing-backingan”.

Pertanyaannya, jika karena hal-hal sepele saja, oknum-oknum militer itu tega menganiaya rekan-rekannya sesama prajurit, apa yang diharapkan dari mereka yang sudah ditempa dan digaji untuk mengayomi rakyat?

Mungkin, jauh dari sekedar “salah paham”, tetapi disiplin dan sifat kesatria, semangat korps, wawasan kesatuan dan persatuan (dalam lingkup lebih besar yakni kebangsaan), kurang dihayati karena cuma dinarasikan dalam slogan-slogan saja.

Seruan agar tidak mudah ringan tangan, apalagi saat ditegur karena melanggar hukum terhadap sesama petugas atau siapa pun harus terus diingatkan mulai dari komandan terendah di level regu, peleton, kompi, batalyon, resimen sampai divisi atau brigade.

Simplifikasi persoalan, dengan sebatas lontaran ungkapan klise yakni  “cuma salah paham” dilanjutkan dengan “joget bareng” antara satuan yang berselisih, agaknya tidak mendidik, bukan cara pemecahan yang komprehensif dan cerdas.

Sepatutnya, para petingi TNI dan Polri, mencari metodologi yang pas untuk mencegah agar kejadian-kejadian memalukan itu tidak terulang di tempat lain.

“Mohon diperhatikan pak jenderal!

 

 

 

 

Advertisement