MYANMAR – PBB mengatakan sekitar 2.500 Rohingya kembali meninggalkan Negara Bagian Rakhine di Myanmar menyusul bentrokan militer, yang terjadi sejak bulan lalu.
Juru bicara PBB Farhan Haq, dilansir Anadolu mengatakan Rohingya dipaksa untuk melarikan diri dari pertempuran antara Tentara Arakan dan militer Myanmar yang dimulai bulan lalu.
Haq mengatakan tim PBB dikirim untuk menyelidiki dan menilai kebutuhan kebutuhan masyarakat yang terdampak.
Rohingya sebelumnya menghadapi ketakutan yang meningkat akan serangan sejak belasan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012.
PBB telah mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan termasuk bayi dan anak kecil, pemukulan brutal, dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan negara Myanmar.
Dalam sebuah laporan, penyelidik PBB mengatakan pelanggaran seperti itu mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.





