ALHAMDULILLAH kali ini awal puasa antara Muhammadiyah dan pemerintah bisa sama, yakni 27 Mei 2017. Dan untuk sebulan ke depan umat Islam sedunia termasuk Indonesia akan menjalani ibada rukun Islam ke-3, Manahan hawa nafsu, setidaknya menjauhi makan dan minum sepanjang siang, sedari waktu imsak hingga adzan magrib. Marhaban ya Ramadan.
Puasa jika sekedar tidak makan minum di siang hari, itu sebetulnya ringan sekali, kecuali yang punya penyakit mag atau hobi makan. Sebab sebetulnya hanya ritmenya yang di balik, biasanya siang malam bisa makan, kini hanya malam hari saja. Dan biasanya, ketika seharian tidak makan minum, begitu adzan di mesjid dan TV terdengar, langsung balas dendam. Makan banyak, ditambah takjil macam-macam, dari kolak sampai kue-kue. Sampai glegeken…………..
“Siksaan” tiba ketika ke mesjid untuk tarawih bersama. Karena kekenyangan, dibuat rukuk atau sujud, kolaknya mau mbalik alias tumpah lagi. Paling celaka, karena kemlakaren (kekenyangan), jadi malas salat tarawih. Setan pun menggoda, “Nggak usah salat tawarih lah, wong hanya sunat ini. Lagian mesjid depan itu 23 rakaat, bikin capeklah. Udah, tidur saja……”
Dalam konteks ini, ajakan setan untuk “tidur saja” sepintas lalu bisa paralel dengan pendapat ustadz ketika kultum menjelang salat tarawih. Lho kok, logikanya bagaimana? Bukankah setan dan ustadz itu selalu berseberangan? Sebuah hadits kan mengatakan bahwa: tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Padahal orang tidur itu otomatis akan menghentikan pula segala tindakan yang menjadikan orang berbuat dosa. Kecuali dalam mimpinya malah pacaran dengan bini atau suami orang!
Sesengguhnya orang berpuasa bukan saja menjauhi makan minum di siang hari, yang paling berat menahan hawa nafsu. Di era gombalisasi sekarang ini, godaan atau tantangan untuk bangkit dan timbulnya nafsu semakin banyak. Bukan hanya warung dan rumah makan yang buka di siang hari, tapi piranti elektronik dari TV, hingga HP canggih smartphone.
Dua alat itu sangat membuka peluang shoimin dan shoimat gagal mengekang hawa nafsunya. Misalkan bom Kampung Melayu kemarin itu terjadi setelah di bulan Ramadan, pastilah banyak penonton TV akan mengumpat haram jadah. Nah, ini secara tak sasar sudah bikin dosa di bulan Ramadan.
Apalagi HP smartphone, peluang untuk berbuat dosa semakin ombyokan. Bila sebelum ada HP canggih orang berpuasa ngabuburit dengan jalan-jalan, sekarang bisa betah berlama-lama di depan HP-nya. Ini bisa sepanjang hari. Di KA, busway, mikrolet dan metromini, semua penumpang sibuk sendiri dengan HP-nya masing-masing, menikmati: facebook, twitter, path, instagram dan whatsApp (WA).
Lewat medsos semacam ini, manusia-manusia bersumbu pendek gampang sekali terpancing untuk berkomentar macam-macam. Padahal berita itu ada juga yang ternyata hoax. Bayangkan, menghujat dan ngomel tanpa juntrung saja sudah berbuat dosa, ditambah menyebar-luaskan kabar bohong. Apakah tidak dosa dua kali jadinya?
Maka ada baiknya direnungkan nasihat mantan guru agama dari Yogyakarta ini. Meski usianya sudah lebih dari 80 tahun tapi masih nampak gagah dan berambut hitam asli bukan hasil “ilmu hitam” (semiran). Kata beliau, “Kalau kamu ingin sehat lahir batin sampai tua, resepnya gampang sekali, “Jangan punya HP dan nonton TV.” Betul juga ya, sebab HP (medsos) dan TV yang non TVRI tentunya, konten siarannya kebanyakan bisa bikin orang terbakar emosinya. Padahal kata orang tua, gampang marah dan tak punya uang itu bikin orang cepat tua. (Cantrik Metaram).





