
Ribuan buku tersebar di sebuah taman daerah terminal Leuwiliang, Bogor. Buku-buku tersebut terdiri dari berbagai macam bacaan. Dari buku cerita anak-anak, pendidikan usia dini, novel, hingga pelajaran untuk mahasiswa. Hanya dengan beralaskan terpal dan karpet buku tersebut cukup menarik minat membaca anak-anak dan juga warga yang berada di sekitar. Tak jarang diantaranya adalah anak-anak jalanan atau orang yang tidak mampu.
Adalah Komunitas Ngampar Boekoe Bogor, yang bertanggung jawab atas tersebarnya ribuan buku tersebut. Apriyudha (22) salah satu anggota komunitas tersebut mengatakan sebenarnya minat baca masyarakat Bogor masih cukup tinggi. Akan tetapi sampai saat ini belum ada ruang baca di lingkungan masyarakat. Adapun ruang baca hanya di Perpustakan Bogor saja. “Kami ingin agar masyarakat dapat mempunyai ruang baca,” ujarnya kepada KBK.
Komunitas yang sudah berdiri sejak satu tahun lalu ini beranggotakan lebih dari 10 orang, dengan pengurus inti berjumlah 7 orang. Untuk pembendaharaan buku mereka sukarela memberikan buku milik mereka. “Awalnya pada pertengahan 2015 buku kita masih sedikit, karena belum ada donatur. Alhamdulilah memasuki akhir 2015 ada donatur yang cukup banyak memberikan buku untuk kita,” tambah Yudha.
Dikatakan Yudha sebenarnya ada peraturan yang mengatur bahwa setiap kecamatan harus mempunyai perpustakaan keliling. “Namun nyatanya tidak ada perpustakaan keliling saat ini,” pungkas mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia tersebut.
Dirinya menambahkan Komunitas ini mencoba membantu pemerintah untuk memenuhi kebutuhan membaca di Kabupaten Bogor. Mereka mengampar buku setiap hari Minggu pagi di sekitar terminal Leuwiliang hingga siang hari. Para pengunjung tidak dikenakan biaya untuk membaca buku yang ada di sana. Bahkan mereka diperbolehkan untuk meminjam buku tersebut secara gratis dengan jangka waktu paling lama 2 minggu dan hanya mengisi identitas si peminjamnya saja. Dalam satu hari, setidaknya 50 orang yang datang untuk sekedar membaca dan meminjam buku.
Keprihatinan mereka terhadap minat baca yang cukup besar masyarakat Bogor, namun fasilitas untuk membaca masih minim. Belum lagi harga buku yang cukup mahal menjadi alasan mereka mendirikan komunitas ini. “Kebutuhan akan buku memang tidak seprimer kebutuhan akan nasi atau pangan, oleh sebab itu daripada mereka membeli buku, lebih baik membeli nasi. Selagi kami masih dapat berbagi akan jendela dunia, maka mereka tidak harus kelaparan,” tutur Yudha.
Selain itu komunitas ini juga sering mengadakan seminar, games, lomba, serta pelatihan untuk anak-anak. Tujuannya adalah untuk membuat anak-anak tersebut ingin kembali lagi minggu depan. Pasalnya anak-anak akan senang jika diajak bermain kemudian mendapatkan hadiah. Tentunya dengan suasana bermain di lingkungan yang banyak bukunya. Anak-anak akan terbiasa membaca buku. Jika anak-anak sudah terbiasa membaca sejak kecil, diharapkan mereka mempunyai wawasan yang luas dan menjadi generasi yang cerdas dimasa yang akan datang.
Yudha menambahkan bahwa sampai saat ini Komunitas Ngampar Buku miliknya belum mendapat dukungan dari pemerintah. Dirinya berharap diberikan sekretariat untuk menaruh buku. Pasalnya jika tidak ada sekretariat ribuan buku tersebut akan tercecer dan perlahan habis karena hilang. Selain itu mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini berharap komunitas ini lebih berkembang lagi dengan memiliki taman baca yang terdapat ruang belajar. Sehingga banyak anak-anak yang tidak mampu dapat belajar dengan rutin.




