JAKARTA – Dengan sorot mata tajam Sumarni duduk di sekitar Pasar Kolombo, Jalan Kaliurang KM 7, Condongcatur, Sleman, DIY. Tas kecil berwarna krem ia selempangkan ke arah pinggang kiri, tangannya erat menggenggam belasan balon gas.
Dilansir dari Tribun Sumarni mengaku dirinya sudah berjualan balon sejak umur 8 tahun hingga kini ia berusia 50 tahun ini. Sumarni menuturkan saat itu kondisi orangtuanya tidak memungkinkan untuk mencari uang tambahan, sehingga dirinya nekat berjualan demi mencukupi kebutuhan hidup keluarga.
Saat itu, ia memberanikan diri berkeliling Yogyakarta untuk menjajakan balon-balonnya.
“Kadang-kadang bapak khawatir sehingga saya dijemput pakai sepeda,” Kenang Sumarni.
Menurutnya, balon-balon tersebut ia dapatkan di sekitar Belakang Rumah Sakit Murangan.Selain balon, Sumarni juga menjual otok-otok dengan motif ayam. Setiap hari Sumarni setidaknya berhasil menjual 25 balon dengan keuntungan Rp 100 ribu.
Sumarni memiliki tiga orang anak yang semuanya perempuan dan masih membutuhkan biaya sekolah.Parjiono suami Sumarni berprovesi sebagai kuli bangunan. Di luar berjualan balon, setiap pagi Sumarni juga menjajakan makanan matang.
Setiap pukul 05.00 WIB, ia berjualan makanan yang dijajakan di depan rumahnya. Kemudian sekitar pukul 07.00 WIB, baru ia berangkat ke pasar untuk menjajakan balon-balon motif. Sumarni berharap dari kerja kerasnya ini, anak-anaknya dapat kuliah hingga Strata-3.
“Saya ingin anak-anak bisa kuliah sampai S3, biar enggak kayak ibunya,” kata Sumarni diakhiri dengan tertawa.





