WASHINGTON – Melalui akun twitternya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan pihaknya dapat menghentikan pembayaran bantuan kepada orang-orang Palestina yang tidak bersedia untuk berbicara damai.
Di Twitter, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat menerima penghargaan ataupun tidak sebagai imbalan atas bantuannya.
Dia juga mengatakan pengakuan kontroversialnya terhadap kota yang diperebutkan di Yerusalem menjadi ibukota Israel yang membuat isu memecah belah “di luar meja” untuk perundingan damai baru antara keduanya.
Warga Palestina mengatakan langkah tersebut menunjukkan AS tidak bisa menjadi mediator netral.
Keputusan pada bulan Desember juga sangat dikutuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa, di mana 128 negara memilih menentang pemenuhan janji kampanye Mr Trump.
Presiden AS mencontoh tindak lanjut komentar sebelumnya tentang pembayaran bantuan ke Pakistan, di mana dia mengatakan bahwa AS hanya menerima “kebohongan dan kebohongan” atas imbalan bantuan miliaran dolar.
“Bukan hanya Pakistan yang kita bayar miliaran dolar untuk apa-apa,” presiden memulai tweetnya pada Selasa (2/1/2018) malam.
“Sebagai contoh, kita membayar ratusan juta dolar Palestina dalam setahun dan tidak mendapat penghargaan atau penghargaan. Mereka bahkan tidak ingin menegosiasikan sebuah perjanjian perdamaian yang telah lama tertunda dengan Israel,” katanya.
“Perjanjian damai dengan Israel Kami telah mengambil Yerusalem, bagian terberat dari negosiasi, dari meja, tapi Israel, untuk itu, harus membayar lebih. Tapi dengan orang-orang Palestina tidak lagi mau berbicara damai, mengapa kita harus melakukan pembayaran masa depan yang masif ini kepada mereka?
Dilansir BBC, Rabu (3/1/2018), ucapan Trump rupanya mengikuti seruan Niki Halley sebelumnya bahwa menurutnya Trump bisa mencabut kontribusi bantuan pada PBB untuk para pengungsi Palestina yang selama ini diberikan.
Donor pemerintah AS telah menyerahkan hampir $ 370 juta pada tahun 2016 untuk menjalankan program pendidikan, kesehatan, dan sosial.




