SEJUMLAH negara termasuk RI mengerahkan segenap kemampuannya untuk meredam imbas kelesuan kegiatan ekonomi dan dunia usaha akibat ancaman pandemi virus corona (Covid-19).
Presiden Joko Widodo baru saja (31/3) mengeluarkan paket penanggulangan dampak Covid-19 sebesar Rp405,1 triliun atau hampir seperlima nilai APBN 2020 (sekitar Rp2.300 triliun) untuk Pemulihan Ekonomi (Rp150 triliun), Jaring Pengaman Sosial (Rp110 triliun), Kesehatan (Rp75 triliun) dan Insentif Perpajakan (Rp70,1 triliun).
Indonesia sedang berpacu dengan waktu menghambat laju penyebaran Covid-19 yang jumlah korbannya dari hari ke hari melonjak secara eksponensial dan diprediksi, jika seruan social distancing dan program rapid test gagal, bisa terjadi outbreak akhir April atau Mei dengan perkiraan korban puluhan ribu orang.
Asumsi prediksi lonjakan jumlah orang yang terpapar Covid-19 didasari perhitungan, Indonesia terlambat melakukan deteksi secara massal antara lain karena keterbatasan peralatan.
Bayangkan saja, sejak didatangkannya alat rapid test guna mendeteksi secara massal dan cepat pertengahan Maret lalu, sampai kini baru lebh 6.000 orang yang diperiksa, bandingkan dengan Korsel yang melakukan deteksi terhadap 230-ribu warganya.
Yang dicemaskan, terbatasnya sarana dan prasarana kesehatan terutama di wilayah-wilayah di luar Jawa, apalagi di wilayah terdepan, terluar dan terbelakang (T3) jika skenario terburuk tak terelakkan.
Sebanyak 132 RS rujukan yang disiapkan bagi pasien Covid-19 di berbagai kota besar, Wisma Atlit di Jakarta yang disulap menjadi RS Darurat Pasien Covid-19 berkapasitas 2.000 tempat tidur serta RS baru yang baru dibangun di P. Galang dikhawatirkan bakal kewalahan menampung korban.
Presiden Joko Widodo juga sudah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan menerbitkan Keppres  No. 11 tahun 2020 tentang penetapan kedaruratan dan PP No. 21 tahun 2020 tentang  Percepatan Penanganan Covid-19 sebagai payung UU No. 16 tahun 2018 tentang karantina kesehatan.
Selain perlunya penegakan hukum terhadap pelanggaran social distancing yang diharapkan berkontribusi menahan laju penyebaran Covid-19, pemahaman dan motif berbeda-beda kepala daerah terkait isu lockdown atau karantina wilayah juga diharapkan bisa dicegah mengacu pada UU dan petunjuk pelaksanannya tersebut.
Tidak hanya RI, Presiden AS Donald Trump juga melancarkan intervensi ekonomi terbesar dalam sejarah AS berupa stimulus bernilai dua  triliun dollar AS (sekitar Rp3.200 triliun) untuk menyelamatkan ekonomi yang lumpuh akibat  pandemi Covid-19 (27/3).
Stimulus ekonomi tersebut a.l. berupa Bantuan Tunai Langsung (BTL) bagi sejumlah warga AS, pinjaman bagi UKM dan industri. Sekitar 105.000 warga Paman Sam terpapar Covid-19, sebanyak 1.695 orang diantaranya meninggal (sampai 31/3).
Sementara kekacauan sempat melanda India, negeri dengan penduduk 1,3 milyar jiwa, setelah pemerintah memberlakukan kebijakan lockdown di seluruh negeri selama 21 hari guna menghambat penyebaran Covid-19.
India juga mengucurkan paket bantuan ekonomi sekitar 22,5 milyar dolar AS (sekitar Rp160 triliun) antara lain berupa pemberian BLT bagi warga miskin yang terimbas kelesuan ekonomi akibat wabah Covid-19.
Pemerintah Australia tidak ketinggalan, dengan meluncurkan paket ekonomi ketiga sebesar 78,9 milyar dollar AS (setara Rp573 triliun) termasuk untuk menyubsidi gaji karyawan selama enam bulan.
Sementara pemerintah Korsel memberikan subsidi masing-masing satu juta Won (sekitar Rp13,4 juta) bagi 14 juta keluarga atau 70 persen kelompok warga berpendapatan terbawah.
PM Malaysia Muhyiddin Yassin yang baru diangkat, menggelontorkan paket bantuan ekonomi sebesar 250 milyar ringgit (sekitar Rp928 triliun) termasuk subsidi gaji sebesar 4.000 ringgit (sekitar Rp5,9 juta) per kepala, begitu pula Singapura, mengucurkan 30 milyar dollar AS (Rp480 milyar) untuk membantu UKM dan BLT.
Pandemi Covid-19 sampai hari ini (2/4) tercatat menginfeksi 194.277 orang di 203 negara dan menewaskan 47.241 orang, Â yang sembuh 194.277 orang, sedangkan di Indonesia, ditemukan 1.677 kasus, 157 diantaran pasien meninggal dan 103 lagi dinyatakan sembuh.
Selain merenggut puluhan ribu korban jiwa, pandemi Covid-19 juga melambatkan  proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia, dan bagi RI, membuat anjlok nilai rupiah terhadap dollar AS, terburuk sejak krismon 22 tahun lalu (hampir menembus Rp17,000 per dollar AS).
Pertumbuhan ekonomi RI 2020 diprediksi akan mengalami kontraksi dari 5,1 persen ke satu persen, AS dari 1,7 ke minus 2,8, Australia dari 2,0 ke minus 0,4, Jerman dari 0,9 ke minus 6,8, Jepang dari 0,4 ke minus 1,5 persen. Penurunan pertumbuhan ekonomi juga dialami banyak negara lainnya.
Covid-19 adalah musuh nyata bersama dunia. Ayo bersatu dan bahu-membahu bersama memeranginya!





