SURABAYA – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim mengungkapkan jika fenomena air laut dua warna yang terpisah di laut bawah jembatan Suramadu sebagai fenomena Halocline.
Arif Wiyono, Prakirawan BMKG Maritim mengatakan, peristiwa tersebut terjadi karena perbedaan densitas air laut.
“Saat air laut surut, air dari muara sungai dipompa menuju ke laut. Pertemuan arus keduanya membentuk buih-buih batas,” katanya, dilansir suarasurabaya.
Selaras dengan BMKG, Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS), Faisal Yasir Arifin menyebut, Halocline disebabkan karena pertemuan dua jenis massa air dari sisi timur dan barat Pulau Madura yang suhu, kadar garam, dan kerapatan airnya berbeda. Sehingga meski satu tempat yakni sama-sama di Selat Madura, air tersebut tidak menyatu.
“Itu fenomena biasa. Terjadi sejak hari Selasa kemarin. Seperti di Selat Gibraltar terjadi pertemuan air dari Laut Atlantik dan air dari Mediterania. Lama terjadinya bisa berhari-hari, bisa semalam saja. Tidak pasti. Tergantung arus lautnya,” pungkasnya.





