JAKARTA – Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan pentingnya pembahasan sesar aktif sebagai pemicu gempa karena keberadaannya yang lebih dekat dengan manusia.
“Sebenarnya euforia megathrust itu perlu diakhiri karena tidak adil jika kita tidak memperhatikan sesar aktif yang merupakan sumber gempa yang berada di sekitar kita. Di dekat tempat kita tinggal, anak kita sekolah, tempat kita bekerja,” ujar Daryono.
Sesar aktif adalah salah satu pemicu gempa bumi yang terletak di darat dan tergolong sebagai gempa bumi kerak dangkal atau shallow earthquake.
Gempa yang disebabkan oleh sesar aktif, menurut Daryono, perlu diwaspadai seperti yang terjadi di Yogyakarta pada 2006 ketika gempa berkekuatan besar mengguncang provinsi itu dengan magnitudo 5,9 yang episenternya berada 25 km selatan-barat daya Yogyakarta.
Selain itu, kata dia, gempa bumi yang terjadi di Palu pada 2018 juga merupakan salah satu gempa yang terjadi akibat sesar aktif dengan pusat gempa berada 26 km utara Donggala dalam kedalaman 10 km. Gempa itu sendiri memakan korban jiwa 2.045 orang.
“Tapi kenapa harus meributkan gempa megathrust yang sebenarnya jarang terjadi,” ujar Daryono, dilansir Antara. Meski demikian, dia mengatakan segala pihak tidak boleh mengesampingkan juga ancaman akan gempa bumi berdorongan besar atau megathrust.





