JAKARTA, KBKNEWS.id – Fenomena hujan es yang terjadi di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, merupakan hasil proses atmosfer yang kompleks, terutama dipicu oleh pembentukan awan badai jenis kumulonimbus.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kejadian ini bukan hal mistis, melainkan murni fenomena alam.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, mengatakan hujan es terbentuk akibat arus udara naik (updraft) yang sangat kuat di dalam awan. Arus ini membawa butiran air ke lapisan atmosfer yang sangat dingin hingga membeku.
Partikel es tersebut kemudian bisa terdorong naik kembali dan membesar karena proses pembekuan berulang.
“Ketika ukurannya semakin besar dan berat, serta tidak lagi mampu ditahan oleh arus udara, butiran es akan jatuh ke permukaan sebagai hujan es,” jelasnya, dilansir beritasatu.
Hujan es umumnya berlangsung singkat karena terkait dengan badai lokal, termasuk yang terjadi di Dieng yang hanya berlangsung puluhan menit.
Kondisi geografis Dieng juga berperan penting. Wilayah yang berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut memiliki suhu lebih rendah, sehingga mempercepat proses pembekuan.
Selain itu, topografi pegunungan membantu mendorong udara lembap naik dengan cepat, meningkatkan potensi terbentuknya awan badai.
Fenomena ini juga sering muncul saat masa pancaroba, ketika kondisi atmosfer cenderung tidak stabil.
BMKG juga menegaskan perbedaan antara hujan es dan embun es atau “embun upas” yang kerap terjadi di Dieng. Hujan es terbentuk di dalam awan saat badai, sedangkan embun es muncul di permukaan tanah akibat suhu dingin ekstrem pada malam hari.
Meski berpotensi merusak tanaman dan mengganggu aktivitas warga, kejadian hujan es kali ini dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan signifikan.
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap cuaca ekstrem, terutama di wilayah pegunungan selama masa peralihan musim.





