JAKARTA— Pimpinan Pondok Pesantren Darun Najah, Sofwan Manaf, menyayangkan BNPT yang tidak memiliki standar terperinci, tentang pesantren-pesantren yang dianggap mengajarkan radikalisme.Ia menyayangkan, radikalisme kerap dikaitkan dengan lembaga pendidikan Islam seperti pesantren.
“Sayangnya, mereka sendiri tidak memiliki standar radikal,” kata Sofwan, seperti dikutip dari Republika.co.id, Rabu (16/3/2/16).
Ia mengungkapkan, fakta itu didapatkan saat melakukan kunjungan langsung ke BNPT. Pihak pesantren meminta penjelasan teperinci terkait persoalan tersebut. Saat itu, lanjut Sofwan, BNPT malah menolak memberikan keterangan teperinci tentang pernyataan yang dilempar, dan menjadi bola panas tentang pesantren.
Meski begitu, Sofwan memahami kalau BNPT merupakan lembaga yang memang bekerja sama dengan pihak-pihak asing, sehingga hanya memiliki target anggaran yang hendak dicapai. Ia mengaku maklum saja melihat BNPT yang seakan berusaha menjual produk kegiatan, dengan pesantren yang menjadi obyeknya.
Sofwan menegaskan paham-paham radikalisme memang bisa tumbuh dalam diri siapa saja, termasuk lulusan-lulusan pesantren. Ia menambahkan, paham-paham itu kemungkinan besar masuk saat mereka mendapatkan pengaruh luar, atau tekanan dari keadaan yang mereka alami. Republika





