BEIRUT—Konflik yang terjadi di negara tetangga membuat negara ini dipenuhi pengungsi. Bahkan, jumlahnya sudah mencapai seperlima dari total populasi penduduk asli.
Adalah Libanon, negara tetangga Suriah dan Palestina ini mendapat limpahan pengungsi paling banyak. Sejak konflik meletus di Suriah, lebih dari 4 juta yang melarikan diri. Dari 4 juta itu, 1 jutanya berada di Libanon. Populasi Libanon sendiri hanya 4,5 juta jiwa.
Kondisi ini tentu saja membuat situasi dalam negeri tidak kondusif. Di saat terjadi penambahan populasi sebesar 20 %, namun infrastruktu dan sumber daya tidak mengalami pertumbuhan. Masyarakat asli pun harus berjuang memenuhi kebutuhan mereka di tengah keterbatasan.
Banjirnya pengungsi tentu saja mempersempit lapangan kerja. Demkian pula dengan fasilitas pendidikan dan kesehatan, yang harus menambah daya tampung sebesar 20 persen.
Untuk itu, Badan PBB untuk Program Pembangunan (UNDP) tengah berjuang untuk memperkuat masyarakat Libanon. Sehingga mereka tidak merasa “terganggu” dengan kedatangan pengungsi.
UNDP juga memperluas akses pelayanan sosial yang merupakan paling banyak dibutuhkan masyarakat dan pengungsi. Bekerja sama dengan perusahaan lokal, UNDP juga membuka kesempatan kerja lebih banyak kepada warga.
“Aspek penting lain dari program UNDP adalah membantu untuk meningkatkan hubungan antara penduduk lokal dan pengungsi dalam rangka mempromosikan perdamaian,”demikian disampaikan dalam siaran pers yang diakses dari ReliefWeb, Rabu (16/3/2016).
UNDP juga fokus di wilayah perbatasan Libanon-Palestina. Di 45 titik yang ada, mereka menyediakan akses air bersih, pengelolaan limbah, jalan dan jaringan listrik.




