KEMAJUAN tehnologi mengubah perilaku manusia, baik yang positip maupun negative. Internet misalnya, system infomasi di jagad maya dengan segala turunannya telah memudahkan pekerjaan, bisa menjadi cepat dan praktis. Tapi di sisi lain, bisa juga merusak mental anak bangsa. Lihat saja sekarang, gara-gara bocah sudah bisa main HP canggih, bocah dan para ABG menjadi cepat dewasa gara-gara mengakses film porno lewat tayangan video dalam HP-nya.
Belum lama ini terbetik berita dari kawasan hutan kota daerah Kelurahan Semper, Timur Jakarta Utara, tepatnya di kampung Rawamalang. Di tempat ini nasib Mawar (bukan nama asli) malang benar! Dia diperkosa oleh 4 lelaki sesama ABG usia 13 tahunan. Ceritanya mau potong kompas agar cepat tiba di rumah, eh malah dipotong masa depannya gara-gara dinodai para ABG bergajulan.
Tetapi meski masih bocah kelas I SMP, dia cukup dewasa menyelesaikan masalahnya. Hari berikutnya dia masih masuk sekolah, di sela-sela Pak Guru menerangkan pelajaran pada muridnya, Mawar melaporkan tentang banyaknya ABG pacaran di hutan Rawamalang. Guru pun menjawab normatif, sehingga tentu saja tak memuaskan bagi Mawar.
Hari berikutnya Mawar sudah tidak masuk sekolah, dan tahu-tahu rame diberitakan ketika pengacara kondang Hotman Paris melaporkan kasus perkosaan atas Mawar itu ke Polres Jakarta Utara. Pihak sekolah baru ngeh, ternyata pertanyaan Mawar tempo hari sebetulnya berkaitan dengan nasibnya, ketika diperkosa 4 ABG berusia di bawah 14 tahun.
Kebrutalan 4 ABG di Semper Timur itu seakan menjadi penerus kasus Sum Kuning di tahun 1970-an di Yogyakarta. Di mana penjual telur Suminem yang bertubuh kuning langsat diperkosa dalam mobil oleh sejumlah anak pejabat di Yogyakarta. Kapolri Hugeng Imam Santosa hendak mengusutnya, ternyata diganjal oleh kepentingan lain, bahkan Kapolri pun dicopot. Walhasil para pelakunya tak terjangkau hukum, dan menjadi utang Polri yang tak pernah terbayar hingga kini.
Jaman itu belum ada internet, dan di masa itu telpon saja belum otomat, tapi kejahatan seksual sudah demikian mengerikan. Semakin ke sini, ketika teknologi informasi dan kumunikasi semakin canggih, anak muda menjadi penjahat kelamin semakin banyak. Dan ketika internet sudah masuk Indonesia, dan setiap orang punya HP lebih dari satu, sebuah survey tahun 2013 mengatakan, 97 persen remaja Indonesia mengakses situs porno. Sayang, survei itu tak mencatat para remako (remaja kolot) alias bapak-bapak, berapa persen yang demen video cabul.
Demikianlah, semakin ke sini anak muda menjadi cepat dewasa, yakni mereka sudah paham bahkan praktek sekalian, bagaimana proses reproduksi anak manusia sampai dilahirkan di muka bumi. Yang terakhir ya di hutan kota Rawamalang Kelurahan Semper Timur itu. Masak bocah lelaki ABG usia baru 13 tahunan sudah berani merayu cewek, “Eh, kamu mau nggak jadi pacar gua?” Dan cewek yang bernama Mawar sebagaimana di atas, menjawab: “Tidak, karena aku sudah punya pacar sendiri.” Gila! Bocah-bocah kencing saja belum lempeng sudah berani pacaran dan kemudian memaksa hubungan intim bak suami istri.
Dekadensi (kemerosotan) moral generasi muda menjadi ujian berat bagi orangtua, bagaimana mendidik anak-anaknya sehingga tidak salah didik. Paling gampang kemudian dimasukkan pesantren. Di tempat ini anak-anaknya baik lelaki maupun perempuan akan memperoleh pendidikan agama sebaik-baiknya, sehingga menjadi benteng menapaki hari depan.
Cuma celakanya, tak semua pesantren jaminan mutu. Putrinya dimasukkan pesantren di daerah Bandung, ketemu pesantren yang pengelola/pemiliknya predator seksual. Ustadz Herry Irawan akhirnya divonis mati gara-gara menghamili 13 santrinya. Dimasukkan ke Ponpes Ponpes Shiddiqiyah. Jombang, eh ketemu Subchi anak pemilik pesantren yang celamitan, yang juga tega menodai sejumlah santriwatinya. Tapi percayalah, hanya sebagian kecil pemilik ponpes yang yang imannya kalah sama “si imin” seperti Herry Irawan Bandung dan M. Subchi Jombang itu.
Sebetulnya orang seperti M. Subchi dan Herry Irawan, sebagai pengelola ponpes pasti tahu akan hadits Nabi yang diriwayatkan Ibu Majah, bahwa setiap lelaki di surga nanti akan dinikahkan dengan 72 bidadari. Tapi rupanya Herry Irawan dan M. Subchi tidak sabaran, kenikmatan seksual diambil duluan di dunia yang fana ini, padahal jumlahnyapun tidak sampai 72. Padahal surga dunia yang mereka nikmati itu akan berujung jadi neraka penjara.(Cantrik Metaram)





