
KOMITE Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap sembilan temuan pada peristiwa musibah pesawat Lion Air JT-610 di lepas pantai Karawang, Jawa Barat, 29 Okt. 2018.
Sebanyak 189 penumpang dan awak pesawat tewas dalam peristiwa nahas beberapa saat setelah pesawat Boeing B737-MAX 8 tersebut mengudara dari Bandara Soekarno – Hatta menuju Pangkal Pinang.
Hasil investigasi KNKT a.l. mengungkapkan beda tampilan antara indikator sensor kiri dan kanan yang menampilkan sudut hidung pesawat (angle of attack- AOA) yang berfungsi mengaktifkan sistem pergerakan pesawat (maneuvering characteristics augmentation system – MCAS).
Akibatnya, saat pilot sedang mengendalian pesawat dan kopilot mencari solusinya di buku manual, pesawat kehilangan kendali dan langsung menghunjam ke permukaan laut.
Yang juga disinggung oleh KNKT dalam laporannya, tidak ada pelatihan khusus bagi pilot yang akan menerbangkan B-737 MAX 8 (terkait MCAS) dan keandalan teknisi pesawat dinilai minim terkait persoalan teknis yang pernah terjadi pada penerbangan-penerbangan sebelumnya.
Kecelakaan pesawat baru unggulan Boeing 737 MAX 8 di lepas pantai Karawang juga bukan yang terakhir karena setelah itu pesawat sama milik Ethiopian Airlines juga jatuh bersama 157 awak dan penumpang (10/3) lalu sehingga seluruh armada B 737 MAX 8 digrounded.
Berbeda dengan saudaranya, pesawat Next Generation (NG) Boeing B737-800 dan B737-900 yang menggunakan mesin CFM56-7, khusus untuk jenis B737-MAX 8 dengan mesin CFM Leap 1B yang lebih besar.
Menurut majalah Asia Week yang dikutip Kompas (26/10), B737-MAX 8 sudah melakukan berbagai penyesuaian struktur pesawat , misalnya memperkokoh sayap, kerangka (fuselage) dan pylon (cantelan) mesin di sayapnya.
Penyesuaian lain dengan digunakannya mesin berbobot lebih berat yakni penempatan posisi mesin lebih ke depan dan kedudukan badan pesawat lebih tinggi dari tanah (dibandingkan dua jenis Boeing lainnya).
Namun dengan daya angkat lebih besar, hidung pesawat B 737 MAX 8 saat mengudara bisa-bisa mendongak lebih dari yang semestinya sehingga malah bisa memungkinkan stall atau kehilangan daya angkat.
MCAS, Bekerja Otomatis
Berdasarkan analisis tehnik itu lah Boeing memasang MCAS yang secara otomatis akan menurunkan hidung pesawat jika sensor AOA yang ada di kedua sisi hidung pesawat mendeteksi sudut terbang terlalu besar.
Itu alasan Boeing tidak memberikan pelatihan khusus bagi pilot B737 NG yang akan menerbangkan B 737 MAX 8, namun persoalan yang tidak terantisipasi bisa muncul jika terjadi “error” pada sensor AOA yang membuat MCAS aktif di luar perkiraan pilot.
Pada musibah B 737 MAX 8 di pantai Karawang, terdapat perbedaan 20 derajat antara kedua sensor yang terbaca di AOA, padahal perbedaan sebesar itu membuat pesawat berpotensi stall.
MCAS yang menerima input keliru, memaksa pesawat mengarahkan hidungnya ke bawah, padahal faktanya, pesawat terbang normal, sehingga pesawat menukik ke permukaan laut.
Pilot agaknya juga tidak begitu menguasai fitur MCAS, termasuk untuk mematikannya jika melihat fitur aktif di luar kewajaran.
Teknologi pesawat udara semakin canggih dan dengan sistem pengamanan berlapis-lapis sehingga relatif paling aman dibandingkan moda transportasi lainnya.
Di luar persoalan teknis, musibah Lion JT-610 menyisakan duka bagi para keluarga korban, tidak saja kehilangan orang-orang yang dicintai, tetapi baru 69 keluarga yang menerima santunan, Rp1,25 milyar per korban, selebihnya 120 keluarga lainnya masih menanti.(Reuters/ berbagai sumber/ns)




