Bohong di Bulan Puasa

Katanya puasa, diam-diam "berbuka" di warung dan kena razia Satpol PP.

PUASA tinggal 22 hari lagi. Semoga 8 hari shaum kita mendapat pahala, bukan sekedar memperoleh dahaga dan lapar belaka. Ya, kata “semoga” harus dimasukkan, karena para pelaku puasa itu sendiri sebetulnya tidak tahu persis, apakah puasanya diterima oleh Allah Swt. Sebab jika hanya mencegah makan, minum, jimak di siang hari, itu mudah dilakukan. Tapi yang namanya bergunjing, berbohong, membully di internet; itu tantangan terberat di era gombalisasi ini.

Ketika masih bocah, orangtua dan Pak/Bu Guru selalu mengatakan, “Jangan bohong, batal puasamu nanti.” Padahal kata ustadz, yang membatalkan puasa itu makan,  minum dan berjimak di siang hari. Selain itu, godaan setan sebagaimana berbohong dan marah-marah, hanya mengurangi pahala puasa. Hadits Nabi mengatakan, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903)

Berdusta itu, baik di bulan puasa maupun tidak, tidak mudah dilihat secara pisik. Maka banyak juga orang yang mengklaim, “Ini bulan puasa, masak saya bohong!” Oleh karena itu ketika Amien Rais bapak reformasi itu dikaitkan dengan kasus korupsi dana Alkes di Kementrian Kesehatan, publik harus percaya ketika dia bilang, “Ini Amien Rais tidak pernah akan tidak jujur. Saya hanya takut pada Yang Di Langit. Saya bukan sombong, saya dididik oleh agama saya hanya takut pada Allah semata-mata.”

Benar-benar Amien Rais berkata jujur, artinya tidak kecipratan dana haram, lagi-lagi hanya Allah Swt yang tahu. Namun demikian publik harus positif thinking sajalah, seorang reformis yang berhasil menjatuhkan Pak Harto, masak tidak jujur. Sayang amat jika kejujurannya hanya dirusak oleh dana Alkes Rp 600 juta. Karena itulah, nama besar beliau cukuplah untuk dijadikan garansi.

Bagaimana untuk puasanya orang biasa, yang bukan mantan pejabat? Bagaimana menggaransi ucapannya bahwa dia tidak berbohong di bulan puasa? Apakah harus seperti Pinokio tokoh ciptaan Carlo Collodi, yang akan memanjang hidungnya manakala berbohong? Ya tak mungkinlah. Dalam dunia nyata, berbohong atau jujur, hidung takkan berubah. Yang pesek, tetap pesek. Yang mancung juga tetap mancung.

Yang jelas, banyak juga di bulan Ramadan ini orang puasa hohong-bohongan. Mereka menjalani puasa tidak secara ikhlas, lillahi ta’ala. Mereka puasa bukan karena panggilan surat Albakarah ayat 183, melainkan hanya karena malu sama mertua atau atasan di kantor. Karena puasanya sekedar sinetron 30 episode tamat, ketika pukul 12.00 siang tiba, diam-diam mereka menyelinap ke warung tersembunyi untuk berbuka. Nah, manusia model begini ini, meski bulan puasa bibir kelimis dan sepak terjang tetap perkasa, rosa-rosa macam Mbah Marijan.

Karena tantangan teknologi, di era gombalisasi makin banyak orang berpuasa memperoleh haus dan lapar doang. Dulu mempergunjingkan orang (ghibah) paling-paling dilakukan 2-3 orang secara bersama-sama. Kini lewat WA di HP smartphone, orang satu grup bisa ghibah bersama. Gara-gara medsos, shoimin-shoimat bisa mendadak jadi sumbu pendek, menggeruduk orang (persekusi) gara-gara tersinggung.

Maka kunci orang berpuasa adalah: mempertajam kesabaran. Tak hanya sabar menunggu adzan magrib, tapi juga sabar menghadapi isyu-isyu berseliweran di sekitar kita. Boleh hati panas, tapi kepala harus selalu dingin. Bukankah Allah akan selalu bersama orang yang sabar? (Cantrik Metaram)

Advertisement