Boleh Melepas Masker

Selama pandemi Corona banyak TPU yang mendadak penuh dan ditutup, termasuk TPU Pondok Ranggon, Jaktim.

ALHAMDULILLAH,  Presiden Jokowi mulai 17 Mei lalu sudah membolehkan rakyatnya melepas masker. Meskipun ada syarat-syarat tertentu, tapi ini sangat melegakan. Lepas sudah beban di mulut dan hidung, dan mulai terlepas pula tekanan ekonomi bagi rakyat, pemerintah dan pengusaha. Diakui atau tidak, Covid-19 selama 2 tahun lebih telah menjadi senderan berbagai kalangan untuk pembenaran suatu kebijakan. Dan karena alasan pandemi Corona pula, semua pihak sangat memaklumi.

Memang, kelonggaran dari Presiden ini tidaklah serta merta menjadikan semua masker harus dipensiun. Syarat-syarat tertentu itu adalah, di ruang terbuka. Misalnya di lapangan atau alun-alun, sedang olahraga pagi sendirian atau ditemani 2-3 orang. Jika satu RT hadir semua, jangan! Itu sama saja beternak virus Corona.

Begitu juga naik kendaraan umum, atau masuk mal, harus tetap bermasker. Mereka yang komorbid atau punya penyakit bawaan, dan usia manula 60 tahun ke atas, juga harus tetap bermasker. Sebab usia-usia begitu rentan serangan berbagai penyakit, meski mengaku dirinya masih rosa-rosa macam Mbah Marijan.

Yang dirugikan atas kelonggaran dari Presiden ini paling-paling orang-orang yang bergigi ompong tapi tak mampu atau tak sempat pasang gigi palsu. Biasanya bisa berlindung dengan masker atas nama Covid-19, sekarang gigi ompongnya jadi kelihatan lagi. Tapi bagi pemilik gigi ompong yang bukan orang atau tokoh terkenal, harus bersyukur. Sebab keompongannya takkan menjadi bahan ledekan orang di medsos sebagaimana Novel Bamukmin.

Dari bulan Maret 2020 kita harus membatasi diri karena pandemi Corona. Karena Covid-19 pula segala sendi kehidupan berubah, termasuk rejeki orang. Banyak pabrik tutup, karyawan di –PHK. Dampaknya, banyak rumahtangga bubar, sebab istri tak sudi jika hanya diberi bonggol tanpa jaminan benggol (uang). Lihat saja di kantor Pengadilan Agama, tiap hari orang berduyun-duyun mengajukan gugatan cerai gara-gara suami mendadak jadi penganggur.

Paling ironis ada pula perusahaan ingkar janji gara-gara Covid-19. Sebelum Corona hadir diumumkan bahwa karyawan yang pensiun akan terima dana pensiun sebanyak Rp 300 juta. Tiba-tiba Corona datang, maka keputusan itu diubah secara sepihak. Dengan alasan susah menjual aset di masa pandemi, dana pensiun hanya bisa dikeluarkan sebanyak 25 persen dari kesepakatan awal. Walhasil yang tadinya akan terima Rp 300 juta, tinggal Rp 75 juta. Yang tadinya Rp 200 juta, tinggal bawa pulang sebanyak Rp 50 juta. Ketimbang sama sekali hilang, ya sudahlah……diterima juga.

Jika hanya kehilangan uang dana pensiun, itu mah kecil. Banyak juga yang kehilangan permanen aset paling berharga, yakni nyawa! Hingga Desember 2021, korban meninggal akibat Covid-19 di Indonesia sebanyak 43.876 jiwa. Banyak TPU yang terpaksa ditutup karena tak mampu lagi menampung jenazah baru.

Paling ironis, banyak orang “bunuh diri” lantaran Covid-19. Dia tak percaya adanya pandemi Corona, justru menuduh politik pihak tertentu untuk mencari uang. Contohnya dalang oskadon oye Ki Manteb Sudharsono. Dia tak percaya Covid-19, giliran kena pas masa puncak wabah itu, sehingga tak dapat Rumah Sakit. Akhirnya dalang setan dari Karanganyar (Surakarta) itu meninggal juga.

Ada uga orang yang percaya adanya Corona, tapi karena dia pendukung Amien Rais yang anti pemerintah, dengan konsekuen pantang divaksin, padahal usia di atas 70 tahun sangat rawan. Apa yang terjadi, si nenek itu terpapar Covid-19 juga di saat Rumah Sakit pada full house. Akhirnya karena kesulitan oksigen si nenek pergi juga ke alam baka.

Yang tidak wajar sekaligus kurang ajar, di Bangkalan (Madura) ada oknum ASN memanfaatkan pandemi Corona untuk berbuat mesum. Dia mengaku terpapar Covid-19, sehingga ingin isoman di rumah sendiri. Sedangkan seluruh keluarga berikut jajarannya disuruh mengungsi ke rumah orangtua. Padahal ketika di rumah sendirian, dia memasukkan gendakannya dalam kamar. Kelakuan oknum ASN ini baru ketahuan ketika ada ada tetangga yang lapor.

Demikianlah, Corona kini telah melandai.  Meski Lebaran sudah dua minggu lewat tapi belum atau tidak ada laporan kluster-kluster baru Covid-19 akibat kaulan mudik Lebaran. Beruntunglah Presiden Jokowi dulu menolak desakan untuk lockdown total, sehingga ibaratnya kemudikan mobil cukup main setengah kopling. Ternyata ini kebijakan yang tepat, karena Indonesia selamat. Tidak terjadi chaos sehingga tak ada peluang musuh negara merebut kekuasaan. (Cantrik Metaram)