
PRESIDEN Bolivia Evo Morales (60) akhirnya lengser atas desakan rakyat dan militer setelah berkuasa sejak 2006 sebagai sosok yang semula mampu mengentaskan kemiskinan dan dinilai prorakyat.
Pada masa tiga tahun kepemimpinannya, Morales dianggap sukses menekan angka kemiskinan lebih separuhnya (dari 38 persen ke 17 persen) dari sekitar 11 juta penduduk Bolivia, namun dalam dua tahun terakhir ini meningkat lagi.
Morales, juga sosok pribumi pertama Bolivia setelah 450 tahun dijajah Spanyol yang mencapai tampuk kekuasaan di tengah gelombang “merah muda” penampilan tokoh-tokoh sayap kiri di kawasan Amerika Latin tahun 2000-an.
Dengan menasionalisasi sejumlah perusahaan asing yang beroperasi di Bolivia, Morales juga dianggap sebagai simbul kebangkitan Amerika Latin melawan dominasi perusahaan-perusahaan multi nasional dan juga menghadapi pengaruh AS.
Tokoh yang pernah diidolakan rakyat Bolivia itu dijemput dengan pesawat pemerintah Meksiko, negara yang menjadi pelindung para pemimpin sayap kiri di Amerika Latin (11/11) , transit di Asuncion, Paraguay untuk mengisi bahan bakar, lalu menuju Meksiko City.
Morales mengundurkan diri sebagai presiden akibat gelombang aksi protes massa sejak tiga pekan lalu atas tudingan kecurangan yang dilakukannya dalam Pilpres Oktober lalu.
Tawaran Morales untuk menggelar pilpres ulang, ditolak pesaingnya dengan perolehan suara terbanyak kedua, Carlos Mesa yang hanya bersedia jika Morales tidak ikut nyapres lagi karena ia jelas-jelas telah dianggap cacat dengan memanipulasi hasil perolehan suara.
Ia mengundurkan diri (10/11) karena tidak dapat berkelit lagi setelah tim investigasi dari Organisasi Negara-negara Amerika memastikan terjadi kecurangan masif dalam Pilpres 20 Okt. lalu yang dimenangkannya dan ia juga diminta lengser oleh para petinggi militer.
Proses suksesi kepemimpinan di Bolivia masih diwarnai ketidak pastian setelah Wapres Alvaro Garcia Linera yang berdasarkan konstitusi negara itu menggantikannya sementara, juga mundur, begitu pula presiden senat dan ketua majelis rendah.
Dalam pernyataannya, Morales yang mengaku merasa kecewa, berjanji akan kembali ke kampung halamannya, Bolivia dalam kondisi lebih kuat dan lebih berenergi.
Lengsernya Morales ditanggapi beragam. Presiden AS Donald Trump menilai hal itu menjadi momen penting bagi pertumbuhan demokrasi, negara-negara Uni Eropa (UE) meminta semua pihak menahan diri, sementara Rusia, Kuba dan Venezuela menganggap peristiwa itu sebagai kudeta.
Krisis politik di Boivia agaknya bakal masih berlanjut. (AP/AFP/ns)




