PANGKAT Heri Purnomo (30) hanya Briptu, tapi orang akan lebih hormat dan respek padanya ketimbang pada Irjen Ferdy Sambo atau Irjen Teddy Minahasa, sesama anggota Polri. Sebab dalam kehidupan ini kejujuran lebih mulia ketimbang pangkat tinggi tapi berperilaku durjana. Lihat saja kedua jendral polisi itu, setelah dilucuti tanda pangkatnya dan kembali jadi orang partikelir, ya culun kehilangan kewibawaannya.
Briptu Heri adalah polisi yang berdinas di Unit Rantis (Kendaraan Taktis) di Ditsamapta Polda Kalteng. Tugasnya sebagai pengemudi. Bila dulu pernah ada isyu rekening gendut Polri, kini gendutnya tubuh Briptu Heri tak menjadi masalah. Sebab gendutnya tubuh Heri sebagai pengemudi takkan membahayakan negara.
Beda dengan gendutnya rekening Irjen Ferdy Sambo dan Irjen Teddy Minahasa, itu diperoleh dari tindak kejahatan. Teddy jabatannya Kapolda Sumbar, tapi ngobyeknya jual barang bukti narkoba. Begitu Irjen Irjen Ferdy Sambo, kekayaannya berasal dari bisnis judi online 303. Lebih dari itu, dia terlibat pembunuhan berencana lagi. Karenanya publik melihat Ferdy Sambo dan Teddy Minahasa, prettttt lah……..
Mesti berpangkat kecil, Briptu Heri Purnomo tahu akan tugasnya. Di hari-hari dia berdinas, dia tak pernah berpikiran mau ngobyek. Dia mencari penghasilan tambahan hanyalah di hari Minggu, bawa truk material 5-6 rit dalam sehari. Bahkan jika kesibukan ngobyek itu berpotensi mengganggu tugasnya di Polri, takkan dilakukan.
Beda dengan Ferdy Sambo dan Teddy Minahasa, di tengah tugasnya sebagai Kadiv Propam dan Kapolda Sumbar sempat-sempatnya ngobyek cari tambahan rejeki tidak halal dan itu mengkhianati tugasnya sebagai bayangkara negara. Almarhum Jendral Hugeng Imam Santosa, jika tahu kelakuan Ferdy Sambo dan konco-konconya pasti malu dan menangis. Quo vadis Polri?
Masa-masa harumnya nama besar Kapolri Jendral Hugeng Briptu Heri tidak mengalami, bahkan mungkin belum lahir. Tapi aroma kejujuran almarhum telah berhasil meresap dalam dirinya, ketika dia bertugas menjadi bayangkara negara. Gaji polisi itu kecil, apa lagi berpangkat kecil. Untuk menambah penghasilan harus ngobyek, tapi ngobyeknya yang halal-halal saja. Sithik ning nglethik (sedikit tapi bermanfaat) ketimbang gedhe dadi gawe (besar tapi menimbulkan masalah).
Gara-gara kasus Ferdy Sambo, jadi terungkaplah begitu banyak polisi jahat pada lembaga yang bertugas memberantas kejahatan. Tapi sebanyak-banyaknya oknum polisi berbuat jahat, pasti jauh lebih banyak yang berbuat baik. Sebab pada hakikatnya orang itu baik, hanya karena pengaruh lingkungan saja orang bisa menjadi jahat sejahatnya seperti Ferdy Sambo, yang menganggap nyawa manusia seperti ayam.
Dan polisi baik dan jujur seperti Briptu Heri Purnomo juga tidak hanya dia seorang, masih juga banyak yang lain. Semisal Mayor Mohamad Miran di Malang. Pada tahun 1990-an, warga Malang sangat mengenal sosok polisi ini. Dengan tongkat dan paku, Miran selalu siap untuk menghukum becak dan angkutan umum yang tidak taat rambu lalu lintas.
Miran sangat ditakuti oleh para sopir angkutan umum dan becak. Juga ditakuti oleh suporter sepak bola Arema dan Persema yang berbagi kandang di Stadion Gajayana. Saat itu kekerasan suporter masih sering terjadi, sehingga Miran ditugaskan untuk menjaga di Stadion Gajayana agar tidak terjadi kerusuhan. Ketika kerusuhan di luar stadion terjadi, Miran tidak segan untuk langsung mengambil tindakan.
Dan paling mengesankan adalah sikap Brigadir Royadin, seorang polisi rendahan di Pekalongan yang di tahun 1959 berani menilang Menteri Pertahanan Brigjen TNI Sultan HB IX sekaligus raja kraton Ngayogya Hadiningrat. Awalnya dia tak tahu bahwa mobil yang ditilangnya itu orang penting di Republik ini. Tapi begitu Sultan membuka kaca mobil, gemeteranlah Brigadir Royadin. “Maaf Sinuwun, karena Sinuwun melanggar aturan lalulintar terpaksa saya tilang!” ujar Royadin salah tingkah dan serba salah.
“Nggak papa, kamu polisi jujur, kamu yang benar!” kata Ngersa Dalem sambil menyerahkan rebuwes atau SIM sekarang. Tak urung Royadin dimaki-maki komandannya. Tapi hari berikutnya Brigadir Royadin dapat surat dari Sultan, dapat tawaran pindah tugas di Yogyakarta berikut keluarganya. Tapi karena Royadin berat menunggalkan Pekalongan, dia tak bisa memenuhi permintaan Ngersa Dalem. Brigadir Riyadin pun dinaikkan pangkatnya satu tingkat.
Semoga kisah-kisah kejujuran polisi ini sangat menginspirasi para prajurit bayangkara negara, sehingga citra polisi yang dewasa ini sedang terpuruk, kembali berjaya. Sebab ada ungkapan mengatakan, orang penting itu baik. Tapi lebih penting jadi orang baik. (Cantrik Metaram)





