Budaya Pamitan

Dari kecil dibiasakan, setiap berangkat sekolah selalu pamitan pada kedua orangtuanya.

BANGSA Indonesia dikenal berbudaya tinggi, termasuk di dalamnya soal sopan santun pada sesamanya. Tetapi di era gombalisasi ini mulai terkena erosi, khususnya pada pemuda dan……politisi. Sekedar contoh, Anies Baswedan pernah janji: sepanjang Prabowo nyapres, dirinya takkan mau nyapres. Faktanya sekarang, dia bersaing di Pilpres 2024. Prabowo mengubah nama koalisinya dari Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya menjadi Koalisi Indonesia Maju juga tanpa seizin Muhaimin Iskandar mitra koalisinya dari PKB. Dan lagi-lagi Anies, menjadikan Cak Imin bakal Cawapres Koalisi Indonesia Perubahan, tetapi tanpa pamitan pada Partai Demokrat, keruan saja AHY mencak-mencak meski dia tak bisa pencak silat.

Stop! Ini sekedar kulitnya saja, sebab kolom ini tabu membahas soal politik. Yang jelas, dari kasus di atas bisa ditarik kesimpulan yakni: mulai hilangnya budaya pamitan yang bila disederhanakan bisa disebut minta izin. Kalau bangun rumah tanpa izin (IMB) Pemda, bisa dibongkar bangunannya. Lha kalau mengencani bini orang –tentu saja– tanpa izin suaminya, bisa dibongkar kepala si pelaku. Ini sudah sering terjadi lho!

Orang Jawa sangat menjunjung tinggi budaya pamitan tersebut. Sampai tahun 1980-an, ketika mau mantu orangtua pengantin selalu mendatangi sesepuh keluarga. Tujuan pamitan itu adalah untuk minta doa dan restunya. Maka kalimatnya kemudian ketika sowan sesepuh, “Nuwun sewu Mbah, menawi wonten idining Pangeran, wulan ngajeng kula badhe mantu si genduk Tatik, kula nyuwun pangestunipun simbah (maaf mbah, jika Allah mengizinkan bulan depan saya mau mantu si Tatik, mohon doa restunya kakek/nenek).”

Sang sesepuh keluarga itu akan menyambut dengan ramah, karena merasa dihargai dan dihormati. Lalu kata-katanya kemudian: “Aku melu bungah le, wong tuwa bisane mung ndongakake muga-muga anggonmu mantu diparingi gancar tanpa pepalang (Saya ikut berbahagia. Sebagai orang yang dituakan saya bisanya hanya berdoa semoga hajatan mantumu berjalan lancar tanpa halangan).

Begitu juga ketika akan merantau ke kota lain yang jauuuh……, seorang ponakan akan mendatangi Pakde/Budi/Bulik atau tantenya. Dia akan berpamitan sekaligus minta restu agar di sana segera dapat pekerjaan dan memperoleh keselamatan sehari-hari. Dan sudah barang tentu yang dipamiti akan mendoakan, bahkan tidak jarang menambah uang sangu untuk perjalanan ke kota harapan.

Penulis ingat betul, ketika sepupu penulis hendak merantau ke Palembang sekitar tahun 1990-an. Kepada ayah dia bilang antara lain: “Mboten ketang wonten ngrika mangke dados kuli nggotongi Cina mati, badhe kula lampahi (meski di sana hanya jadi kuli panggul Cina mati tetap bakal dijalani).”

Anak-anak keluarga muda sekarang, budaya pamitan seperti itu sudah banyak yang melupakannya. Kalaupun ingat, sudah ambil praktisnya saja lewat chatingan WA atau telepon langsung. Maka yang penulis agak merasa aneh, ketika sekitar tahun 2000-an hendak mewancarai seorang wartawan dan budayawan Purworejo(Jateng) yang memiliki toko buku. Sebelum datang penulis telepon dulu, ternyata yang menerima istrinya. Apa kata sang istri? Suaminya sedang keluar kota entah ke mana. “Bapaknya itu kalau pergi ngglenes (tanpa pamit saja) saja. Nanti seminggu baru pulang, dan saya tak pernah ngurus dari mana karena memang sudah begitu kebiasaannya.”

Jaman itu sang budayawan tersebut usianya sudah oversek (lebih dari seket = 50 tahun). Yang tua saja begitu, lalu bagaimana pula yang anak muda? Dan itu kini sudah terjadi. Jangankan pergi tidak pamit, ketemu tetangga di jalan saja kini sudah biasa tak bertegur saja. Padahal di mesjid selalu salat berjamaah bersama bahkan  satu saf, tapi di luar mesjid menjadi seperti orang asing jadinya.

Anak-anak punya lagu anak-anak Rajin Belajar karya Ibu Sud, ada lagu Jawa “Esuk-esuk srengengene lagi metu….”. Kedua lagu itu mengandung pesan bahwa anak-anak berangkat sekolah mesti pamitan pada orangtuanya. Lagu itu kemudian tertanam dalam jiwa anak-anak, sehingga ketika gede dan kemudian dewasa, akan menjadi biasa. Ke mana pun akan selalu pamitan pada orangtuanya.

Bagaimana dengan anak-anak yang lahir di era gombalisasi sekarang ini? Mungkin lagu-lagunya Ibu Sud tersebut sudah tak diajarkan. Atau diajarkan pun sudah tak masuk di hati, karena sudah teracuni oleh HP android, yang menyebabkan mereka tak mampu bersosialisasi dengan lingkungannya. Bayangkan, anak balita sekarang kok menyanyikan lagu: Oo Oo ketahuan, selingkuh lagi! Apa-apaan ini? (Cantrik Metaram).

           

 

 

Advertisement