Budaya Telanjang Dada

Telanjang dada sebagai alat demo, pernah dilakukan karyawan pabrik di Tangerang.

 BAGI orang kampung, urusan bertelanjang dada sih sudah biasa, di Jateng-Jatim-DIY disebut: ngliga.  Itu sudah merupakan budaya orang desa. Tapi gara-gara yang ikut-ikutan ngliga adalah Prabowo Subianto yang mau nyapres lagi di 2019, jadi bikin geger. Mungkin dia mau menunjukkan, “Ini lho saya, meski usia sudah 67 tahun masih rosa-rosa macam Mbah Maridjan! Karena itu jangan ragu-ragu memilih saya.”

Tapi di Jakarta yang berhawa panas, banyak orang lelaki di rumah suka bertelanjang dada, tak peduli suku apapun. Gerah katanya. Maka pernah kejadian, seorang bapak justru marah ketika diberi tahu anaknya bahwa Pak Guru siang ini mau datang ke rumah. “Ngapain, siang-siang bertamu?” kata sang bapak.

Tentu saja si anak protes, mau ada tamu kok berkeberatan, bukankah tamu itu pembawa rejeki? Lalu apa jawab sang bapak? “Bukannya aku tak mau repot harus mengeluarkan hidangan segala, tapi aku jadi tersiksa karena suasana gerah begini harus pakai baju.” Anakpun baru memaklumi.

Dalam adat ketimuran, bahkan adat manapun, menerima tamu hanya dengan telanjang dada memang bisa dianggap tak tahu adat. Seperti wayang saja, dalam sidang kerajaan pun tak pakai baju. Memang sih, hampir semua tokoh perwayangan, tingkat raja sekalipun tak ada yang pakai baju. Misalnya, Prabu Puntadewa raja Amarta, Prabu Kresna raja Dwarawati, atau Prabu Duryudana raja Astina; kesemuanya tetap bertelanjang dada meski dalam forum resmi.

Dalam dunia wayang, yang berbaju hanyalah kalangan begawan dan dewa. Semuanya pakai baju, bahkan bergamis (jubah) pula. Mereka ke mana-mana juga selalu pakai sepatu, meski tak berkaos kaki. Wayang selain dewa dan begawan, ke mana-mana juga nyokor alias tak bersepatu. Tapi anehnya, dalam dunia wayang tak pernah ada lakon Gatutkaca kecocok (tertusuk) paku sampai tetanus.

Bila ada statistiknya, mungkin orang desa lebih sedikit yang terkena masuk angin ketimbang orang kota. Orang desa sedari kecil sudah terbiasa bertelanjang dada, sehingga kebal (imun) terhadap segala serangan angin. Beda dengan orang kota, sedari kecil tubuh selalu terbungkus baju dan celana. Jika ada anak-anak bertelanjang dada, niscaya si ibu akan mengingatkan, “Ayo, bajunya dipakai, nanti masuk angin lho!”

Orang kota karena tak terbiasa bertelanjang dada, meski jadi pejabat pun suka masuk anginan.  Hal ini bisa ditanyakan kepada Bagir Manan yang pernah menjadi Ketua MA itu. Sampai jadi Ketua Dewan Pers pun dia asal masuk angin selalu menyembuhkannya dengan kerokan. Jika punggungnya sudah bergaris merah-merah macam zebra.

Masuk angin memang bisa menyerang siapa saja, dari pejabat sampai rakyat. Cuma harus waspada pada penyakit angin duduk, ini sangat membahayakan, terutama bagi orang-orang yang bertubuh pendek. Apa hubungannya angin duduk dan orang pendek? Logikanya gampang saja; ketika angin duduk tersebut tiba-tiba berdiri, yang bertubuh pendek akan beresiko nyondhol (nyodok) jantung. Manusia cap apapun, jika jantungnya tersodok benda tumpul, matilah dia!

Tapi di era gombalisasi seperti sekarang ini, bertelanjang dada juga bisa dijadikan alat demo. Pernah tahun 2014 sejumlah eks karyawan pabrik di Tangerang demo ke DPR dengan bertelanjang dada. Awalnya mereka berpakaian lengkap, tapi karena DPR tak mau menerima, mereka pun segera mencopot baju-bajunya dan tampaklah kemudian barisan orang ngliga sambil menggelar poster.

Tapi ada juga orang bertelanjang dada sebagai alat mencari makan. Di Kab. Purworejo (Jateng) sampai tahun 1980-an masih banyak ditemukan penjual atau bakul  dawet ke sawah-sawah membawa dagangannya dengan bertelanjang dada. Justru penjual dawet berpakaian lengkap, dianggap aneh dengan resiko dagangannya malah tidak laku. (Cantrik Metaram)

Advertisement