Bukan Penggila Bola

Piala Dunia 2022, ternyata pialanya digondol Argentina setelah kalahkan Prancis lewat tendangan penalty.

HARI ini merupakan hari-hari paling bahagia bagi penggemar dan penggila sepakbola. Sebab yang mengidolakan Argentina pada Piala Dunia 2022, ternyata tim yang disukainya berhasil kalahkan Prancis 3-3(4-2) lewat tendangan penalty. Sebaliknya yang pegang Prancis merupakan hari-hari penuh air mata, apa lagi yang kalah taruhan. Beda bagi orang yang bukan penggemar bola, adanya cuma heran saja. Kok bisa ya, pemain yang berhasil mencetak goal penentu kemenangan, malah diengkuk-engkuk dan dikerubuti rekan-rekannya. Apa nggak remuk?

Bagi mereka-mereka yang bukan penggila bola –termasuk penulis– hanya bisa prihatin macam Pak SBY, karena sejak Indonesia merdeka hingga kini belum pernah ambil bagian di World Cup yang berlangsung 4 tahun sekali itu. Mampunya baru jadi penonton dan komentator, karena menyadari begitu susahnya mencari 11 pemain yang jagoan bola, dari 270 juta penduduk Indonesia.

Tadi pagi saat subuhan di mesjid, sebelum salat berjamaah dimulai, sambil masuk barisan shaf rekan jemaah bertanya, “Bapak pegang siapa?” Penulis yang tak memperhatikan heboh Word Cup, hanya dengar selentingan favorit orang-orang, maka langsung menjawab sekenanya, “Prancis Pak!” Dia tertawa, karena Prancis memang kalah lewat tendangan penalty.

Jaman sekolah di PGA Yogyakarta taun 1966-an, Pak Dimyati guru PD (Pendidikan Jasmani) di depan kelas pernah mengatakan, “Brasil itu fanatiknya akan bola luar biasa. Timnya kalah di Piala Dunia, bisa digantung!” Dan ternyata sampai Piala Dunia sekarang cerita itu masih berlaku. Bis isi rombongan timnasnya yang kalah, beberapa hari lalu sekeluar dari bandara bis pemain langsung ditimpuki batu. Penggemar bola Brasilia sadis sekali ya?

Yang namanya hobi dan penggemar, siap nombok demi kepuasan batiniah. Maka bagi orang berduit nonton bola sampai Catar atau Madrid (1982), bukan hal yang aneh. Pernah hal ini saya tanyakan pada seorang penggemar bola. Jawabnya malah dibalikin, “Sampeyan sendiri hobinya nonton wayang, sampai Bandung dan Bogor juga dibela-belain….!”

Ketika Piala Dunia 1982 di Madrid, penulis yang menjadi Redaktur di Harian Pos Kota, dapat giliran piket pagi. Pukul 07:00 sudah standby di meja redaksi. Jaman itu belum ada internet. Maka tak ayal telpon berdering terus, menanyakan hasil  atau skore bola Piala Dunia semalam. Karena penulis tak hobi bola, menjawab saja: tak tahu Pak! Eh di seberang malah bilang, masak redaksi Pos Kota tidak tahu? Penulis pun menjawab cari aman, “Maaf Pak, saya hanya pesuruh!” Baru di seberang menyerah, “Oo, ya sudah!”

Sebagai wartawan penulis bisa menulis apa saja, sepanjang data-datanya lengkap. Tapi kalau harus menulis laporan tentang bola, ampun ampun deh! Karena tidak suka maka ketika tabloid Bola masih masuk sebagai lampiran Harian Kompas, beritanya tak pernah saya baca. Kalaupun baca, hanyalah biografinya para pemain. Soal liputan pertandingan, matur nuwun……..

Pada Piala Dunia tahun 2000-an penulis naik biskota jejer dengan seorang penumpang, rupanya dari Medan dilihat dari aksenya. Dia lalu mengajak saya ngobrol soal pertandingan bola semalam. Karena saya tak pernah perhatian, tentu saja kerepotan untuk mengimbangi pembicaraan. Akhirnya saya menjawab terus terang, “Maaf Pak, soal bola saya tahunya cuma Ponirin…!”

Orang itu tertawa lepas, tapi segera mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang umum. Dan ketika saya pamitan karena turun lebih dulu, orang Medan itu lalu memberi jalan di sela-sela bangku. Dan ketika saya turun dari pintu bis, dianya melambaikan tangan. “Selamat jalan Mas Ponirin….” Ujarnya setengah meledek.

Ponirin Meka (1956-2022) adalah satu pemain terpenting di klub PSMS Medan tahun 1980-an. Namanya mulai melejit  ketika merebut juara sepak bola Divisi Utama PSSI sekitar 1984-1985. Dia  mengalahkan Persib Bandung dengan adu penalti 6-5 setelah bermain waktu normal tetap imbang 2-2.

Penampilan spektakuler Ponirin juga terjadi ketika membela timnas sepak bola Indonesia pada Asian Games 1986 di Seoul. Indonesia maju ke partai semi final setelah pada pertandingan perdelapan final berhasil mengalahkan Malaysia 1-0. Selanjutnya, di partai perempat final timnas Indonesia berhasil menumbangkan Uni Emirat Arab dengan adu penalti 6-5 di mana Ponirin berhasil mematahkan penalti pemain UEA yaitu sekali pada babak kedua dan sekali lagi pada adu penalti. (Cantrik Metaram)

Advertisement