KOTA Surakarta hari-hari belakangan ini tak hanya terkenal akan Putri Solo-nya, tapi juga cacing-cacingnya, yang gentayangan di Pasar Gede, di timur Balaikota. Pertanda atau alamat apa ini? Apakah juga tak tahan terkena lockdown lokal, sehingga keluar dari liangnya. Rupanya kawanan cacing sudah tak peduli akan ancaman karantina di rumah angker daerah Sragen.
Sejak dulu kala kota Solo memang terkenal akan putri-putrinya yang cantik, lemah gemulai, lembut tutur katanya. Salah satunya adalah Gusti Nurul, putri RM Suryosuparto yang juga Mangkunagoro ke-VII. Begitu cantiknya dia, para petinggi negara kala itu semisal Bung Karno, Sutan Syahrir, Sultan HB IX, berminat untuk mempersuntingnya. Tapi cinta mereka kandas, karena Gusti Nurul justru memilih dinikahi orang biasa.
Dalam lagu legendaris “Putri Solo” yang tak jelas siapa pengarangnya (anonym), tergambar betapa cantiknya para Putri Solo. Katanya atau menurut lagu tersebut, yen ngguyu dhekik pipine (ada lesung pipit jika tertawa), pancen pinter alelewa (pandai bermanja-manja), lakune kaya macan luwe (jalannya seperti harimau lapar) dan seterusnya. Tak ada satu lagu ciptaan komponis siapapun, menggambarkan jalan gadis Solo seperti ……cacing kepanasan.
Memang, cacing tanah dan cacing kalung adalah hewan yang menjijikkan, yang tak pernah membangkitkan gairah seni para pencipta lagu. Cacing hanya menarik bagi pemancing atau mereka yang menjadikan cacing sebagai lahan bisnis. Dengan nama latin lumbricus rubellus, ketika dijual dalam partai besar sampai ton-tonan bisa menghasilkan uang hingga Rp 300-an juta sebulan.
Tapi jika cacing tersebut jenis cacing pita atau cacing tambang, itu sudah menjadi penyakit dalam tubuh manusia. Jika ada anak kecil kurus kering dengan kebiasaan nglomot jari, sementara perutnya buncit atau njembling, diduga keras dia sedang cacingan. Bocah dulu obatnya obat cacing Kam Tjek San produk Bintang Tujuh.
Di musim pageblug Corona, di mana-mana terjadi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Tujuannya baik, untuk menghambat penyebaran virus Covid-19. Tapi karena bepergian juga dilarang kecuali untuk kepentingan mendesak, warga masyarakat benar-benar merasa tersiksa. Ke mana-mana tidak boleh, malah jika sampai Sragen langsung dimasukkan ke rumah karantina yang terkenal akan keangkerannya.
Jangankan manusia selaku makhluk sosial, cacing saja tak betah berlama-lama di tempat becek, meski itu habitannya. Contohnya di Pasar Gede, Solo, ribuan cacing tanah Sabtu lalu mendadak keluar dari areal pertamanan. Jika dikumpulkan, bisa seember penuh. Hari berikutnya, cacing tanah juga bermunculan di Klaten, tepatnya di Desa Socakangsi Kecamatan Jatinom.
Apakah cacing-cacing Klaten ini sedang bermigrasi dari Solo? Pakai apa? Apa mereka naik Patas Eka Surabaya-Magelang yang juga lewat terminal bis Sukarno-Hatta Klaten? Yang jelas kemunculan cacing-cacing secara masal ini telah menimbulkan berbagai spekulasi, dari kacamata para ahli, paranormal sampai politisi.
Bagi kalangan ahli, cacing tanah itu makhluk yang sensitive. Ketika terjadi perubahan cuaca, dari musim penghujan ke kemarau di bulan April, biasalah cacing-cacing tanah itu muncul ke permukaan. Tapi bisa juga perbuatan orang iseng, ketika air garam disiramkan ke tanah yang lembab dan becek, maka cacing tanah akan segera bermunculan. Logikanya, karena cacing bernapas dengan kulit, ketika kulit tertutup air garam, dia jadi kesulitan oksigen, munculah ke permukaan.
Tapi menurut yang ahlinya ahli dan intinya inti, yakni pihak BMKG (Badan Meteorologi, Klematologi dan Geofisika), munculnya cacing secara masal bisa jadi pertanda akan datangnya gempa besar. Pada gempa bumi di Taiwan tahun 1999 misalnya, 10 hari sebelum gempa datang, cacing-cacing bermunculan. Begitu juga pada gempa Cina tahun 1975, sebelum gempa menggoyang Haicheng, dilaporkan juga ada kemunculan cacing tanah ke permukaan.
Paranormal muda namun dipanggil Mbah Mijan, mengamini pendapat ahli BMKG tersebut. Namun dalam penerawangannya, kemunculan cacing di Solo-Klaten itu nantinya akan terjadi di mana-mana. Kacing itu pemakan tanah, tapi kata Mbah Mijan cacing merasakan bau lain dari makanannya.Apakah bau lain itu yang dimaksudkan para mayat korbanm virus Corona?
Beda lagi pendapat politisi Gerindra Arief Poyuono. Merutnya, itu sebuah alamat peringatan untuk Presiden Jokowi. Katanya, kebijakan Kangmas Jokowi dipengaruhi orang-orang nggak bener di sekelilingnya. Padahal, Ketum Gerindra Prabowo Subianto, juga termasuk orang di sekeliling Jokowi, dengan posisi Menteri Pertahanan. Apakah dia juga termasuk yang nggak bener itu? Bisa-bisa Arief Poyuono terkena gerinda dari jabatannya di Partai Gerindra. (Cantrik Metaram)





