Cahaya Keimanan di Balik Terpal Pengungsi NTT

MANGGARAI TIMUR, KBKNEWS.id – Guncangan gempa bumi yang meruntuhkan rumah ibadah tidak menyurutkan semangat spiritual warga di Dusun Ronting, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Di tengah puing-puing bangunan dan hilangnya kenyamanan fasilitas ibadah, lantunan ayat suci Al-Qur’an tetap terdengar mengalun merdu menembus keheningan malam pascabencana.

Pantauan KBKNEWS.id, Rabu (2/9/2026) anak-anak di dusun tersebut tetap teguh menjalankan rutinitas mengaji meski kondisi serba terbatas. Kegiatan membaca Al-Qur’an bukan sekadar kegiatan pengisi waktu luang bagi warga setempat, melainkan telah mengakar kuat menjadi kebiasaan serta budaya yang diwariskan turun-temurun sejak lama di tanah Ronting.

Kentalnya tradisi keagamaan ini membuat anak-anak di Dusun Ronting sudah mahir melantunkan ayat-ayat suci sejak usia belia. Kemampuan membaca Al-Qur’an dengan tartil telah menjadi pemandangan lumrah di wilayah pesisir utara Manggarai Timur tersebut, mencerminkan kuatnya pendidikan agama dalam lingkungan keluarga.

Sebelum bencana gempa melanda, rutinitas pengajian anak-anak ini biasanya digelar selepas salat Ashar di dalam masjid dusun. Suasana ceria dan lantunan hafalan anak-anak selalu menghidupkan senja sebelum mereka kembali ke rumah masing-masing menjelang petang.

Namun, runtuhnya masjid akibat guncangan gempa memaksa masyarakat melakukan penyesuaian jadwal dan tempat ibadah. Sejak peristiwa tersebut, waktu pengajian digeser menjadi ba’da Isya dan dialihkan sepenuhnya ke tenda masjid darurat yang didirikan di area terbuka beralaskan terpal dan karpet seadanya.

Di bawah naungan terpal biru dan sorotan lampu darurat, anak-anak tampak khusyuk duduk melingkar sambil menyimak mushaf Al-Qur’an. Meskipun angin malam dan udara terbuka menyertai setiap pertemuan, fokus serta keceriaan mereka dalam menuntut ilmu agama tidak sedikit pun pudar.

Kehadiran para ustaz dan pendamping lokal di dalam tenda darurat tersebut menjadi penopang moral yang sangat berharga bagi proses pemulihan trauma anak-anak. Ruang darurat itu bertransformasi tidak hanya sebagai tempat mengaji, tetapi juga sebagai ruang aman untuk mengembalikan keceriaan mereka pascabencana.

Keteguhan anak-anak Dusun Ronting ini menjadi cerminan nyata dari resiliensi masyarakat lokal dalam menghadapi masa sulit. Di tengah keterbatasan fisik dan infrastruktur ibadah yang hancur, cahaya semangat belajar dan kecintaan mereka terhadap Al-Qur’an tetap menyala terang di pelosok Manggarai Timur.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here