JAKARTA – Ahmad Martanto (34) duduk terdiam di depan Intalasi Gawat Darurat (IDG) RSUD Muntilan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Warga Dusun Jamblangan, Desa Bringin, Kecamatan Srumbung itu trauma dengan longsor yang nyaris merenggut nyawanya.
Sebagai penambang pasir tradisional, ia masih tak percaya melihat 8 temannya tewas tertimbun longsor di area penambangan bego pendem lereng gunung merapi. Martanto bercerita, pagi itu sekitar pukul 10 pagi, ia dan puluhan penambang sedang menggali pasir tepat di bawah tebing.
Kebetulan, malam sebelumnya terjadi longsor sehingga banyak material pasir yang terkumpul di lokasi tersebut.
“Ada sekitar 21 orang, termasuk saya, Royani, dan Samsuri (korban meninggal) ada di situ. Teman-teman sedang menggali pasir sisa longsoran tadi malam. Saya juga mau menambang,” katanya seperti dilansir kompas (19/12).
Di saat teman-temannya mulai beraktivitas menambang, bapak dua anak itu justru berniat membeli makanan untuk teman-temannya di warung tidak jauh dari lokasi.
“Saya mau nyari nasi bungkus buat teman-teman, baru berjalan beberapa meter, pemilik warung dan orang-orang yang sedang duduk berteriak-teriak ada longsor,” tuturnya.
Seketika dirinya berbalik dan mendapati tebing telah runtuh menimbun para penambang yang tidak sempat menyelamatkan diri. Saat itu juga Martanto shock menyaksikan taman-temannya tertimbun material berupa pasir dan batu.
“Saya ngredeg (gemetar). Begitu berbalik arah tebing sudah runtuh. Tapi saya masih bisa mencari teman saya yang tertimbun material setengah badan. Bersyukur teman saya langsung dievakuasi ke rumah sakit. Saya ikut ke rumah sakit,” kenang Martanto.





